Dr. Johanes Kurniawan, S.Th., M.Pd.K adalah seorang dosen Pendidikan Agama Kristen pernah mengungkapkan bahwa guru PAK tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi sebab guru PAK adalah role model memancarkan karakter Kristus sebagai model pribadi yang mentransformasi anak didiknya. Seorang penulis buku Trilogi Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang mencakup PAK Anak, PAK Remaja, dan PAK Dewasa menunjukkan kesadaran pedagogis bahwa pembinaan iman bersifat progresif dan kontekstual. Pendidikan iman tidak dapat diperlakukan sebagai materi tunggal untuk semua usia, melainkan harus disusun sesuai tahap perkembangan psikologis, sosial, dan spiritual peserta didik. Dengan demikian, trilogi tersebut merefleksikan pendekatan kurikuler yang berjenjang dan berkesinambungan dalam kerangka pendidikan gerejawi maupun sekolah Kristen.
Pada ranah PAK Anak, fokus utama terletak pada peletakan fondasi iman melalui pengenalan narasi Alkitab, pembentukan karakter dasar, serta internalisasi nilai kasih, ketaatan, dan kepercayaan kepada Allah. Pendekatan yang digunakan cenderung konkret, naratif, dan partisipatif, sejalan dengan karakteristik perkembangan kognitif anak yang masih berada pada tahap operasional konkret. Pada tahap ini, pendidikan iman diarahkan pada pembiasaan praktik-praktik rohani sederhana sejak usia dini, seperti mendengarkan kisah Alkitab, berdoa, bernyanyi, dan belajar melalui teladan. Pendekatan tersebut bertujuan menanamkan nilai iman secara bertahap dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari anak.
Beranjak ke PAK Remaja, orientasi pembelajaran bergeser menuju pendalaman reflektif dan dialogis. Remaja berada dalam fase pencarian identitas dan krisis nilai, sehingga pendidikan iman perlu mengakomodasi pertanyaan kritis serta dinamika sosial yang kompleks. PAK pada tahap ini berfungsi sebagai ruang hermeneutik yang menolong peserta didik menafsirkan pengalaman hidup dalam terang iman Kristen. Dimensi apologetis dan etis menjadi lebih menonjol, sebab remaja mulai berhadapan dengan pluralitas pandangan serta tuntutan moral masyarakat.
Sementara itu, PAK Dewasa menitikberatkan pada integrasi iman dengan tanggung jawab sosial, profesional, dan eklesial. Pendidikan iman tidak lagi sekadar kognitif atau afektif, melainkan transformatif mengarah pada praksis hidup yang konsisten dengan nilai Kerajaan Allah. Pada tahap ini, pembelajaran bersifat andragogis, menghargai pengalaman hidup sebagai sumber refleksi teologis. Diskursus teologis, etika Kristen, serta panggilan pelayanan menjadi elemen sentral dalam membentuk kedewasaan rohani.
Secara konseptual, trilogi tersebut mencerminkan kesinambungan antara formasi (pembentukan dasar), konfirmasi (penguatan identitas iman), dan transformasi (perwujudan iman dalam praksis). Struktur berjenjang ini memperlihatkan bahwa Pendidikan Agama Kristen bukan kegiatan insidental, melainkan proses pembinaan sepanjang hayat (lifelong faith formation). Dengan demikian, trilogi PAK tersebut memiliki kontribusi strategis dalam membangun kurikulum yang sistematis, teologis, dan responsif terhadap dinamika perkembangan manusia dalam terang iman Kristen.
Peran guru PAK, sebagai pelayan Tuhan, adalah figur yang lebih hidup dan konkret bagi peserta didik. Bila orangtua adalah pendidik utama dan pertama dirumah bagi anak, maka guru PAK adalah orangtua kedua bagi anak didiknya di sekolah. Andai saja di rumah anak-anak tidak menemukan figur yang patut diteladani, maka gambar diri anak rusak seiring pertumbuhannya. Ketika anak di sekolah melihat figur yang berkarakter Kristus dari guru PAK nya, maka setidaknya ia dapat meniru.
Orang tua adalah pendidik utama dalam rumah bagi anak biologisnya. Sedangkan guru PAk diskeolah adalah orang tua kedua bagi peserta didiknya. kedua peran serta tanggung jawab baik orang tua dan guru PAK tidak bisa terlepaskan di mana semestinya berkolaborasi bersama program sekolah dalam pembinaan dan pendidikan bagi anak didik untuk mengalami perubahan karakter dan cerdas dalam pengetahuan. Guru PAK yang andal dan berkompeten dibidangnya harus piawai dalam mencermati, mengawasi dan membimbing anak didiknya sehingga mereka merasa nyaman dan menjadikan sekolah juga gereja sebagai rumah kedua bagi mereka. Sekolah yang dibangun dan merupakan afiliasi dengan gereja menjadi jembatan yang signifikan dalam membawa anak didik kepada pengenalan lebih mendalam kepada Sang Pencipta.
Anak-anak adalah pribadi peniru ulung, sebagai mesin foto copy yang andal; "children see, children do". Oleh sebab itu sepatutnya orangtua dan anggota keluarga di rumah harus mewariskan perilaku yang sehat berupa etika, tata krama, budaya, norma-norma dan tradisi.