Follower
Thursday, April 24, 2025
Thursday, April 17, 2025
Peran Orangtua dan Guru PAK di Era Revolusi Industri 4.0 (Gadged dan Tantangannya)
Peran Orangtua dan Guru PAK di Era Revolusi
Industri 4.0
(Gadged
dan Tantangannya)
Johanes Kurniawan
STT Ekumene Jakarta
Abstract
Primary education starts from
the family through parents as teachers – the main educators for their children.
Teachers in schools, especially Christian Education teachers, are second
parents to their children. Both have a major and important role in bringing
children to respond to the development of the industrial revolution era 4.0 as
an era of disruption and its challenges. PAK teachers are required to be
professional in their competence to be able to educate students to change
character in warding off habits against the impact of gadged influences and
challenges. In this study using qualitative methods and literature review.
Through this article, it is hoped that it will be able to open the horizon and
paradigm mindset of every task and responsibility of parents, PAK teachers
including schools and churches to be able to anticipate and even give a
positive charge in fortifying the impact of the influence of the revolution era
4.0 and its challenges in the future. The true gospel changes the paradigm of every
believer to serve as His role model and impact the world.
Keywords: parents, PAK teachers,
revolution era 4.0, gospel.
Abstrak
Pendidikan utama bermula dari
keluarga melalui orangtua sebagai guru – pendidik utama bagi anak-anaknya. Guru
disekolah khususnya guru Pendidikan Agama Kristen adalah orangtua kedua bagi
anak yang didiknya. Keduanya memiliki peran utama dan penting dalam membawa
anak dalam menyikapi perkembangan era revolusi industri 4.0 sebagai era
disrupsi berikut tantangannya. Guru PAK dituntut untuk professional dalam
kompetensinya mampu mendidik peserta didik kepada prubahan karakter dalam
menangkal kebiasaan terhadap dampak pengaruh gadged dan tantangannya. Dalam
penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kajian Pustaka. Melalui
artikel ini diharapkan mampu membuka cakrawala dan mindset paradigma dari
setiap tugas dan tanggung jawab para orangtua, guru PAK termasuk sekolah dan
gereja untuk dapat mengantisipasi bahkan memberi muatan positifdalam
membentengi dampak pengaruh era revolusi 4.0 berikut gadged dan tantangannya
kedepan. Injil yang sejatinya menggubah paradigma setiap orang percaya untuk
bertugas sebagai role model-Nya dan berdampak bagi dunia.
Kata Kunci: orangtua, guru PAK,
era revolusi 4.0, Injil.
Pendahuluan
Tanggung jawab pendidikan
Kristen pertama-tama dan terutama terletak pada orang tua, yaitu ayah dan ibu
(Amsal 1:8). Banyak keluarga Kristen masa kini yang menyerahkan pendidikan
rohani anak mereka sepenuhnya pada gereja atau sekolah. Mereka beranggapan bahwa
gereja atau sekolah tentunya memiliki "staf profesional" yang lebih
handal dalam menangani pendidikan rohani anak mereka. Namun, mereka lupa bahwa
lama waktu perjumpaan antara anak mereka dengan pendeta, pastor, gembala, guru
PAK, atau pembimbing rohani anak yang hanya beberapa jam dalam seminggu, yang
tentunya terlalu singkat untuk mengajarkan betapa luas dan dalamnya pengetahuan
tentang Allah. Satu hal lain yang terpenting adalah Allah sendiri telah
meletakkan tugas untuk merawat, mengasuh, dan mendidik anak-anak ke dalam
tangan orang tua. Merekalah yang harus mempersiapkan anak-anak mereka agar
hidup berkenan kepada Allah. Gereja dan sekolah minggu hanya membantu dalam
proses pendidikan tersebut. Tanggung jawab pendidikan Kristen memang bukan tugas
yang mudah, baik bagi bangsa Israel pada zaman Perjanjian Lama maupun bagi kita
pada zaman sekarang. Setiap zaman memiliki kesulitan dan pergumulan
masing-masing, namun prinsip-prinsip dasar pendidikan Kristen yang Alkitabiah
tetap bertahan di tengah berbagai teori pendidikan baru yang muncul.
Pendidikan merupakan usaha
sadar yang dilakukan dengan maksud untuk mewariskan kepada generasi–generasi
yang baru dari semua pengalaman peradaban yang dikembangkan oleh
generasi–generasi yang
dahulu dalam berbagai aktivitas. Demikianpun tugas guru sangat penting dalam
pendidikan dikarenakan agar peserta didik dapat belajar bagaimana mereka
bertumbuh dengan dewasa sesuai dengan nilai kehidupan sejati, dimana nara didik dan warga gereja dapat belajar
mengenal Allah dan tugas guru ialah memberikan pengarahan, dorongan, fasilitas
dan lain sebagainya. Pengertian “Pendidikan” dalam
kamus bahasa Indonesia berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang
atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran
dan pelatihan; proses, perbuatan, cara mendidik.[1]
Pada era sekarang ini
pendidikan semakin menghadapi tantangan yang berat. Hal itu dikarenakan ada
banyak persoalan menghadang didepan sebagaimana yang nyata dilapangan dan dapat
di dengar dan dilihat dari berbagai media yang ada. Hal ini disebabkan oleh terjadinya perubahan yang begitu cepat pada
ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi yang terus menerus mendorong terjadinya
perubahan kehidupan yang cepat, dan yang diramalkan oleh para futurolog
mengenai keadaan manusia yang berubah secara cepat akan dapat menimbulkan
beberapa gejolak negatif adalah benar.
Pengajaran kebenaran
sebagaimana diungkapkan Alkitab perlu diaktifkan dan kembangkan “let the Bible speaks!” dan harus menjadi
keyakinan seorang guru PAK sebagai pendidik Kristen, karena itu panggilan
seorang guru PAK sebagai pendidik dan pembina amat mendesak untuk dikembangkan
yakni menolong anak untuk “belajar melakukan” yang diajarkan oleh Tuhan Yesus
Kristus (Andar Ismail, 1998).[2] Sebagai
pendidik dan guru, harus tumbuh dalam pemahaman Alkitab dan harus meningkatkan
kualitas spiritual dan mentalnya agar dapat memainkan peran
sebagai ”garam dan terang dunia” di
lingkungan profesinya seperti
yang dituliskan dalam Matius 5:13–16 yang berbunyi:
(13) “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu
menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain
dibuang dan diinjak orang.
(14) Kamu adalah terang dunia.
Karunia hikmat dan pengetahuan serta keguruan yang ada pada diri seorang
guru adalah anugerah Allah (I Korintus 12:4–11).
(4)
(7) Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan
penyataan Roh untuk kepentingan bersama. (8) Sebab kepada yang seorang Roh
memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh
yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. (9) Kepada yang
seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan
karunia untuk menyembuhkan. (10) Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk
mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat,dan
kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam
roh.Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa
roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh
itu. (11) Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang
memberikan karunia kepada kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang
dikehendaki-Nya.
Para guru adalah saksi Tuhan di dalam profesi keguruannya dan sebab itu,
pekerjaan itu harus ditunaikan sebagai persembahan bagi Tuhan (bd. Kolose
3:17,23).
(17) Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan
perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus,
sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
(23) Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah
dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Metode
Artikel ini menggunakan metode kualitatif
dilakukan secara ilmiah atau merupakan studi pustaka (Library Research) atau “qualitative
method with a literature approach”. serta dapat dipertanggung jawabkan secara
akademis. Peneliti melakukan studi riset terhadap beberapa literatur seperti
Alkitab, artikel, dan buku (sebagai sumber primer) yang memiliki keterkaitan
terhadap upaya yang sedang dilakukan. Serta didukung oleh sumber literatur lain
seperti buah pemikiran beberapa orang yang menurut penulis bermanfaat untuk
dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan referensi dalam penelitian yang sedang
dilakukan sebagai sumber sekunder.
Pembahasan
Permasalahan di atas
adalah merupakan tantangan yang besar bagi tenaga pengajar atau pendidik PAK
karena PAK ialah suatu pendidikan, yang di dalamnya guru PAK dipanggil Allah
untuk berkarya, dapat diartikan sebagai usaha sadar untuk membimbing, melengkapi,
serta membina, individu maupun kelompok agar mengalami pertumbuhan dalam segala
aspek : fisik, mental, moral, relasional dan spiritual.
Pada proses
pembelajaran kita dapat melihat begitu besarnya tugas dan tanggung jawab yang
ada pada “Pendidikan Agama Kristen”, lalu penulis bertanya “apakah Pendidikan
Agama Kristen mempengaruhi pertumbuhan jiwa atau tingkah laku seseorang?”
Jawaban yang pertama, tentu saja belajar “Pendidikan Agama Kristen”, berarti
kita belajar untuk bertumbuh dengan kepribadian yang sehat (wholeness) di tengah berbagai krisis dan
liku–liku kehidupan tetapi yang lebih penting ialah belajar mengenal Allah.
Yang kedua adalah melalui Pendidikan Agama Kristen membuat remaja menemukan sumber makna hidup
hanya ada didalam Tuhan Yesus Kristus
yang penuh kasih dan
karunia dan kebenaran (Yohanes 1:14-17;10:10).
(14) Firman itu telah menjadi manusia, dan diam
di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang
diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan
kebenaran. (15) Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya:
:Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan
datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” (16)
Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih
karunia; (17) sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan
kebenaran datang oleh Yesus Kristus.
(10:10) Pencuri datang hanya untuk mencuri dan
membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan
mempunyainya dalam segala kelimpahan.
Perdamaian dengan Allah didalam Yesus Kristus lah yang membuat
terjadinya perubahan arti dan orientasi hidup. Jika orang benar-benar mengerti
kebenaran maka kebenaran itulah yang akan memerdekakan hati, pikiran dan sikap
mental seorang remaja. Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen tampaknya
haruslah sedemikian rupa menjawab pencarian identitas diri seorang remaja,
yaitu cara beriman anak remaja berkaitan erat dengan krisis identitasnya.
Alkitab menegaskan bagaimana Allah memanggil dan mendidik manusia untuk belajar
mengenal Dia, agar mengasihi Dia dengan
segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi (Markus 12:29–30).
(29) Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah:
Dengarlah hai orang
Karena orang mengenal Tuhan dan hormat kepada Dia, seorang remaja
memperoleh ketentraman batiniah serta menjauhkan diri dari kejahatan. Hal ini
benar–benar kebutuhan manusia masa kini. Banyak orang tidak mengenal Tuhan
dengan benar dan tidak takut kepada Dia sehingga perilaku mereka bertentangan
dengan nilai kehidupan manusia sejati.
Pada masa usia ini
(12–19 tahun), remaja mengalami krisis identitas diri (indentity crisis), dan perasaan serba canggung (role confusion). Hal ini menyebabkan
terjadi banyak perubahan–perubahan pada pola pikir yang dialami oleh remaja
dalam konsep-konsep moral, disiplin dan iman.
Soesilowindradini menulis perubahan
pola pikir remaja
salah satunya adalah:
konsep disiplin. Konsep disiplin
yang dimaksud yaitu:
Anak remaja merasa
bahwa disiplin atau ketertiban itu harus ada, akan
tetapi tidak menghendaki
lagi penjagaan disiplin seperti masa kanak–kanak.[3]
Peran, Tujuan dan Makna
Pendidikan Bagi Anak
Kata pendidikan merupakan terjemahan dari “education” (Inggris) yang dari bahasa
latin “ducere” yang berarti
membimbing (to lead), ditambah awalan “e” yang berarti keluar (out). Jadi arti
dasar dari pendidikan adalah suatu tindakan untuk membimbing keluar. Dalam
bahasa Yunani, pendidikan; Pedagogik, atau “paedos“, yang berarti anak laki-laki, dan “agogos“ artinya mengantar, membimbing. Jadi kata pedagogik secara harfiah berarti
pembantu anak laki-laki. Menurut sejarah pada jaman Yunani kuno dimana seseorang
yang pekerjaannya mengantarkan anak majikannya ke sekolah. Namun kemudian makna
tersebut secara kiasan berkembang
menjadi adalah seorang
ahli, yang membimbing
anak kearah tujuan
hidup tertentu. Prof. Dr. J. Hoogveled (Belanda): pedagogik adalah ilmu yang mempelajari
masalah membimbing anak ke arah tujuan tertentu, yaitu supaya ia kelak “mampu
secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya.” Jadi pedagogik adalah ilmu mendidik anak. Mendidik menurut apa yang
benar untuk harus ia lakukan, perbuat dan terapkan dalam hidupnya.
Langeveld membedakan
istilah “pedagogik” dengan istilah “pedagogi”. Menurut Langeveld, pedagogik diartikan dengan ilmu pendidikan, lebih menitik beratkan
kepada pemikiran, perenungan tentang pendidikan, suatu pemikiran bagaimana kita
membimbing dan mendidik anak. Sedangkan istilah pedagogi, berarti pendidikan,
yang lebih menekankan kepada praktek, menyangkut kegiatan mendidik, kegiatan
membimbing anak.
Etimologi
kata Pendidikan adalah usaha manusia dalam meningkatkan pengetahuan tentang
alam sekitarnya. pengertian pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(kbbi) adalah sebuah proses ataupun tahapan dalam pengubahan sikap serta etika
maupun tata laku seseorang atau kelompok dalam meningkatkan pola pikir manusia
melalui pengajaran dan pelatihan serta perbuatan yang mendidik. Hal ini sangat
berkaitan dengan tujuan bahwa arti pendidikan bukan hanya sebagai proses
ataupun sistem transfer pengetahuan semata (knowledge) tetapi sebagai proses
pengubahan karakter, akhlak, etika, dan norma dari setiap peserta didik atau
warga gereja. Cully, mengatakan “Guru adalah pembimbing serta sesama peserta
dengan si anak”. Dengan demikian guru bukan hanya menyampaikan materi saja
tetapi juga membimbing, mendidik dam membentuk kepribadiannya ke arah yang
baik.[4] Guru
PAK senantiasa melakukan gerakan pendidikan karakter yang dimulai dari
dirinya sendiri, yakni menjadi contoh teladan (role model) bagi nara didik dan
warga gereja yang kemudian didukung oleh keluarga, gereja dan masyarakat. Keluarga, sekolah dan gereja sinergi kerjasama yang baik,
komunikasi yang baik antara sekolah dengan orang tua nara didik dan dengan
gereja. Dari ketiga lembaga tersebut, yang paling utama adalah keluarga. Thomas
Lickona mengatakan “tentu saja pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab
sekolah. Ia adalah tugas bersama semua orang yang bersentuhan dengan
nilai-nilai dan kehidupan orang muda, dimulai dengan keluarga, dan meluas ke
komunitas-komunitas iman”.[5]
Pendidikan diawali
dengan proses belajar untuk mengetahui suatu hal kemudian mengolah informasi
tersebut untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini peranan
lingkungan sangat mengikat dan mempengaruhi. Peranan lingkungan sangat berpengaruh
terhadap kemajuan dan prestasi pendidikan. Hal ini dikarenakan setiap individu
yang terlibat dalam proses pendidikan, di mana saling berinteraksi menjadi satu
kesatuan dengan lingkungannya.
Lingkungan pendidikan sendiri dapat
dibedakan menjadi 3 macam yaitu :
1. Pendidikan Formal
Pendidikan Formal adalah pendidikan
yang bisa didapati dengan mengikuti kegiatan atau
program pendidikan yang terstruktur serta terencana oleh badan pemerintahan,
progam-program yang sudah dirancang intitusi, departemen atau kementrian suatu
Negara. misalnya melalui sekolah ataupun
universitas.
2. Pendidikan Informal
Pendidikan Informal
adalah pendidikan yang dilakukan ditengah-tengah lingkungan keluarga dan
kegiatan belajarnya dilakukan secara mandiri. Pendidikan informal pada umumnya
tenaga pengajar atau pembimbingnya adalah bisa orang tua atau saudara yang
dianggap mampu mengajar dan fasilitator. Kekurangannya adalah tidak adanya
ketetapan pegangan kurikulum, tidak ada jenjang dalam proses pendidikannya,
tidak ada ujian sesuai standard, Tidak terdapat manajemen yang jelas dalam
proses pembelajaran.
3. Pendidikan Non Formal
Pendidikan Non Formal
adalah pendidikan yang bisa didapati melalui aktivitas kehidupan sehari-hari
yang tidak terikat oleh lembaga bentukan pemerintahan ataupun swasta, misalnya
belajar sendiri melalui buku bacaan atau belajar melalui pengalaman diri sendiri
dan orang lain.
Pendidikan dalam
lingkungan keluarga memiliki peranan penting terhadap perkembangan anak. Orang
tua bertanggung jawab terhadap semua peningkatan dan kemajuan pendidikan
anak-anaknya. Begitu juga dengan lingkungan sekolah, disana para guru
bertanggung jawab terhadap kemajuan prestasi anak didiknya. Selain lingkungan
keluarga dan sekolah, lingkungan masyarakat juga sangat berperan penting dalam
peningkatan prestasi anak didik yaitu dengan peran sertanya dalam pendidikan
luar sekolah.
Beberapa pendapat dan pandangan
berkenaan dengan makna pendidikan:
Menurut UU No. 2 tahun 1989
Pendidikan adalah usaha sadar untuk
menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran, dan pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003
Pendidikan
merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mampu mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, kepribadian yang baik, pengendalian diri, berakhlak mulia,
kecerdasan,dan keterampilan yang diperlukan oleh dirinya dan masyarakat.
Menurut GBHN
Menurut G.B.H.N. Ketetapan RI tahun
1993 menyebutkan bahwa tujuan Pendidikan Nasional
bertujuan untuk meningkatkan kualitas Indonesia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri,
maju, teguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, professional, bertanggung
jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan manusia juga
harus menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cinta tanah air,
meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada
sejarah bangsa dan sikap jasa para pahlawan, serta berorientasi pada masa
depan.
Menurut UNESCO
“Education
is now engaged is preparinment for a tife Society which does not yet exist” Pendidikan itu sekarang adalah untuk
mempersiapkan manusia bagi suatu tipe masyarakat yang masih belum ada. Konsep
sistem pendidikan mungkin saja berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat
dan pengalihan nilai-nilai kebudayaan (transfer of culture value). Konsep
pendidikan saat ini tidak dapat dilepaskan dari pendidikan yang harus sesuai
dengan tuntutan kebutuhan pendidikan masa lalu, sekarang, dan masa yang akan
datang.
Martinus J Marimba,
Pendidikan sebagai
sarana membantu atau menolong setiap orang agar dapat melaksanakan hidupnya
dengan baik, menentukan tujuan hidup sesuai yang dibutuhkan dan menjadi pribadi
yang mandiri untuk mambantu meningkatkan taraf berpikir menuju kedewasaan.
John Dewey,
Pendidikan adalah
sebuah proses pengalaman, di mana kehidupan adalah pertumbuhan yang berarti
pendidikan membantu untuk pertumbuhan manusia tanpa adanya batasan usia.
Menurutnya yaitu suatu proses yang membersamai pengembangan, peningkatan serta
pertumbuhan yang terus menerus. Proses pertumbuhan merupakan proses penyesuaian
setiap fase kehidupan dan menambah kemampuan seseorang melalui pendidikan.
Howard Horne,
Pendidikan adalah
proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi
makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan
sadar kepada Tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual,
emosional dan kemanusiaan dari manusia.
Lawrence Cremin,
Pendidikan adalah usaha
yang sadar, sistematis, dan berkesinambungan untuk mewariskan, membangkitkan
atau memperoleh baik pengetahuan, sikap-sikap, nilai-nilai,
keterampilan-keterampilan, atau kepekaan-kepekaan, maupun hasil apa pun dari usaha tersebut.
A. N. Whitehead,
Defenisi pendidikan adalah sebagai bimbingan kepada individu menuju
pemahaman dari seni kehidupan. Menurutnya, seni kehidupan diartikan sebagai
pencapaian yang paling lengkap dari berbagai aktivitas yang menyatakan
potensi-potensi dari mahluk hidup berhadapan dengan lingkungan yang aktual.
Dalam istilah lain, kata “Pendidikan” dari bahasa Yunani yaitu “Paedagogis”. Paedagogis beasal dari kata
“Pais” artinya anak, dan “Again” artinya membimbing. Paedagogis artinya bimbingan yang diberikan kepada anak. Sudirman
berpendapat: pendidikan suatu usaha yang
dijalankan oleh orang tua atau kelompok orang untuk mempengaruhi orang atau
kelompok orang lain agar menjadi lebih
dewasa untuk mencapai tingkat hidup yang lebih tinggi dalam arti mental.[6] Terjadinya sebuah pendidikan tentu
membutuhkan proses yang dapat terjadi bisa lama maupun sebentar. Namun demikian
tentunya sebuah kualitas hasil dari sebuah pendidikan tidaklah instant semata.
Dalam bahasa Inggris, kata pendidikan berasal dari kata “Education” yang artinya to give intellectual and moral training”.
Pengertian tersebut berarti bahwa pendidikan itu bertanggungjawab terhadap
pemberian pengetahuan dan pembinaan moral, meningkatkan kecerdasan juga
kualitas budi pekerti. Istilah lainnya
adalah “Teaching” yaitu
mengajar, suatu proses
belajar mengajar agar anak memperoleh
pengetahuan dan ketrampilan.
Singgih D. Gunarsa menulis: “Setiap usaha yang
dilakukan untuk mengubah tingkah laku sedemikian rupa sehingga menjadi tingkah
laku yang diinginkan. Setiap anak harus mengalami dan menjalani proses
perubahan yang cukup lama sebelum anak dapat hidup sendiri dengan tata cara
hidup umum”.[7] Elizabeth B. Hurlock berpendapat:
“Perubahan anak di masa pubertas sangat berpengaruh terhadap sikap, perilaku
dan emosinya”.[8] Oleh sebab
itu dimasa tersebut hendaknya remaja mendapat asupan dan pengajaran dari Firman
yang hidup yang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, dan memperbaiki
kelakuan seperti dituliskan
di dalam 2 Timotius 3:16,17 yang
berbunyi:
(16) Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang
bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki
kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
(17) Dengan demikian
tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
Pendidikan Agama
Kristen (PAK) adalah mesin waktu yang membawa insani kepada pengenalan akan
Kristus untuk mengalami perubahan perspektif yang diperbaharui sesuai Injil
yang murni sehingga membawanya kepada perubahan paradigma dan menanggalkan
manusia lama serta dikembalikan untuk mengenakan kepada divine nature (kodrat ilahi). Pendidikan
Agama Kristen dimaksudkan untuk meningkatkan potensi spiritual dan membentuk
remaja agar menjadi manusia yang beriman dan taat kepada Tuhan dan berahklak
mulia, mencakup etika, budi pekerti dan moral sebagai perwujudan dari
pendidikan agama Kristen.[9]
Hakikat PAK adalah usaha yang dilakukan
secara kontinue dalam rangka mengembangkan kemampuan pada siswa agar dengan
pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Allah di dalam Yesus
Kristus yang dinyatakannya dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan
lingkungan hidupnya. Seperti yang sudah kita
ketahui, kehidupan umat dalam Perjanjian Lama terkenal dengan budayanya yang
disebut Patriakal. Budaya ini berkembang dalam kehidupan masyarakat pada saat
itu yang dikenal dengan orang-orang Yahudi. Jadi secara tidak langsung
pendidikan agama Kristen dalam Perjanjian Lama pun mengarah pada pendidikan
agama umat Yahudi pada saat itu.[10]
Proses
ini tidaklah mudah, tenaga pengajar atau guru PAK, baik di institusi akademik
maupun di lembaga-lembaga bahkan gerejawi, pelayan dan hamba Kristus harus
memiliki hati yang sabar, tekun dan ulet membawa nara didik (peserta didik),
warga gereja (jemaat), untuk terus berkesinambungan dibimbing dan diarahkan.
Proses ini akan lebih muktahir bila guru PAK dapat menjadi role model yang
dipandang layak untuk diteladani. Guru PAK merupakan
panggilan yang dipercayakan Tuhan dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran
sesuai dengan karunia yang telah diberikan kepadanya. “Guru adalah salah satu
komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha
pembentukan sumber daya manusia yang potensial dalam bidang pembangunan”.[11]
B.S.
Sidjabat (Mengajar Secara Profesional; 2010), menegaskan dalam tulisannya
perihal pernanan, tugas dan tanggung jawab seorang guru:
Guru
sebagai pendidik;
harus memiliki standar kualitas pribadi yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin. Guru sebagai
pendidik bertugas memperlengkapi nara
didik dengan berbagai kebutuhan agar
bertumbuh di dalam Yesus Kristus.
Guru
sebagai pembimbing, adalah berdasarkan kompetensinya dalam pengetahuan dan pengalamannya,
guru mampu membimbing dan bertanggung jawab atas perjalanan dan perkembangan nara didiknya.
Guru sebagai pengajar, adalah guru mengelola
kegiatan agar peserta didiknya belajar. Guru tidak hanya mampu menyampaikan
bahan yang dikomukasikan, namun juga mampu membantu peserta didiknya memahami
faedah atau kegunaan dari proses belajar yang tengah berlangsung.” Guru PAK perlu
mempelajari pengetahuan lain, terasuk pengetahuan sosial, pengetahuan alam, dan
pengetahuan teknologi selain ilmu teologia dan Alkitab.
Guru sebagai pelatih, adalah mampu menjadi
pelatih sebab pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan dan keterampilan
baik intelektual maupun motorik.
Guru sebagai sahabat, adalah guru harus mampu
menjadi teman dan sahabat bagi nara didiknya sebagai orang tua yang mereka
segani dan guru harus mampu berkomunikasi dengan memiliki komunikasi yang baik
dengan nara didik.
Guru sebagai fasilitator; guru harus mampu berusaha
memahami kebutuhan atau keperluan nara didik dalam proses belajar melalui
fasilitator pendidik.
Guru sebagai pemberita Injil; guru adalah misionaris bagi
nara didiknya. Hal ini menjelaskan bahwa betapa pentingnya pemberitaan Injil
yang dapat menyelamatkan manusia dari dosa kepada kebenaran, termasuk nara
didik.
Guru sebagai imam dan nabi; Guru PAK di sekolah
berperan sebagai imam. Seperti yang diungkapkan oleh Rick Yount (1998)
mengemukakan bahwa guru Kristen memiliki peran sebagai pelayan yang dibagi
dalam tiga dimensi yakni sebagai imam (priest), nabi (prophet), dan sebagai
raja (as king or leader)”.[12]
“Guru
PAK adalah rohaniawan dan pendetanya anak-anak, dalam membimbing dan membawa
anak-anak kepada Tuhan. Guru PAK harus melebihi hanya sekedar memenuhi
keperluan kurikulum dalam mendidik anak-anak”.
Guru PAK mutlak
mendengarkan Roh Kudus selagi Dia berbicara melalui batin kita, agar kita dapat
mengetahui jalan mana yang harus kita tempuh. Oleh karena itu marilah kita
mohon kepada Roh Kudus untuk membimbing kita dan memberdayakan kita untuk
merangkul sepenuhnya kehendak Allah. Cepat atau lambat jika kita
ber-prilaku mengenakan kodrat ilahi, niscaya orang disekitar akan mencium aroma
yang berbeda (bnd. 2 Kor.2:15), dan lambat laun akan menulari (influence).
Keadaan dunia semakin jahat dan tidak semakin membaik, tetapi bagi mereka yang
melakukan kehendak Bapa pasti akan masuk dalam kekekalan. Apalagi teknologi
sekarang lebih dominan memikat hati para remaja daripada membaca Alkitab.
Keteladan
adalah bahagian tercepat untuk ditiru karena pada prinsipnya semua insani
memiliki sifat dasar mengamati, meniru, dan mengaplikasikannya dalam peragaan
hidup secara nyata dalam keseharian. Sebagai contoh seorang anak akan lebih
mudah mencontoh/meniru prilaku orang dewasa disekitarnya. Seorang remaja
senantiasa mencari figur untuk ditiru karena pada masa usia seperti ini mereka
sedang mencari identitas diri. Keadaan situasi dan kondisi seperti ini akan
rentan dan sangat dapat membentuk keadaan pribadi seseorang dengan keadaan
disekitarnya.
PERAN PAK DI ERA REVOLUSI 4.0
Kemajuan
teknologi di era disrupsi ini, maka guru PAK harus cakap dan piawai dalam
menggunakan teknologi yang tersedia. Kompetensi guru PAK di era revolusi
industri 4.0 bukanlah suatu keharusan melainkan kebutuhan yang memang harus
dipenuhi dan dijalankan dalam rangka menyukseskan pembelajaran secara tepat
guna dan tepat sasaran kepada nara didik. Remaja pada masa sekarang ini, di
abad ke 21 ini merupakan remaja yang masuk dalam kategori generasi milenial.
Dilangsir termasuk generasi milenial adalah yang kira-kira
lahir pada tahun 1980 - 2000. Pada era ini, komputer baru mulai booming,
seiring dengan naik daunnya video games, gadget, smartphones, dan
internet. Namun seiring
perkembangannya,
milenial atau juga dikenal sebagai generasi Y, Gen Y atau
generasi langgas (KBBI: tidak terikat kepada
sesuatu atau kepada seseorang; bebas) adalah kelompok demografi setelah
generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal
dan akhir dari kelompok ini.
Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal
kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an
sebagai akhir kelahiran. Istilah milenial sendiri menjadi trend sejak
awal 1987. Generasi yang sekarang ini
kita kenal adalah generasi Alpha, yakni di atas 2010 sebagai kelanjutan
generasi Z (2001 - 2010) adalah sebuah generasi yang terbuka karena orang tua
pada waktu tersebut dilengkapi dengan latar belakang dari generasi yang juga
terlahir pada masa-masa awal perkembangan teknologi. Pola pikir mereka terbuka,
transpormatif, dan inovatif akan memberi dampak perkembangan anak-anak yang
hidup di generasi Alpha. Kebutuhan jaman akan membentuk generasi dengan segala
perilaku/perangainya. Perilaku tersebut akan terbentuk oleh paradigm atau cara
pandang yang akan bertumbuh bisa melalui kepribadian, keluarga dan lingkungan
sekitar. Lingkungan, yaitu tempat di mana manusia
hidup, berinteraksi, menyesuaikan dirinya dan mengembangkan dirinya. Individu
menerima pengaruh dari lingkungan, mencontoh dan belajar berbagai hal dari
lingkungan.
Melalui
teknologi dalam kemasan IPTEK, semua orang dapat menjelajah hampir kesemua
belahan bumi tanpa batas, tanpa harus berkunjung dan berpergian. Mencari data,
berita dan informasi dengan hitingan detik dan menit tanpa harus menunggu lama.
Pertemuan masa sekarang ini tidak harus bertatap muka langsung tapi dapat
dengan google meet, zoom, video call, dan sebagainya. Kondisi dan situasi real
time dapat dirasakan setiap waktu tanpa jeda. Kendala nya ialah bagi remaja
yang harus diperhatikan oleh guru PAK, gereja dan keluarga adalah bahaya yang
tidak terfilter masuknya informasi yang di dapat, diterima dan di back up oleh
remaja. Guru PAK dan semua komponen
harus benar-benar bersinergi dalam merangkul dan mengayomi remaja supaya mereka
jangan terpengaruh kejahatan cyber yang sengaja diupload oleh orang-orang yang
tidak bertanggung jawab hanya demi mencari keuntungan pribadi tapi merugikan
generasi muda. Filter itu bukan hanya pengarahan kepada remaja, tetapi juga
melalui pembinaan iman agar supaya perspektif remaja tersusun dalam membangun
komitmen dan konsisten untuk hidup dalam
kesucian. Tahu memilah mana yang berkenan dan yang tidak.
Era
milenial ini, remaja sudah piawai di atas rata-rata dalam menggunakan gawai dan
teknologi yang tersedia. Hampir di semua tenant, counter dan market place,
telah menggunakan teknologi sebagai pendukung penyedia layanan kepada
masyarakat sehngga menambah daya tarik minat konsumen. Pasar online, serba
cepat menyediakan kebutuhan pangsa pasar, terutama kebutuhan dan keperluan yang
menjadi trend dan fashion bagi remaja pada masa kini. Gaming mobile online,
video call, zoom, google meet, skype dan fasilitas lainnya yang membutuhkan
provider penyedia layanan streaming dan online sedang digandrungi oleh kalangan
remaja. Terutama di tengah masa pandemi covid-19, sejak memasuki awal bulan di
tahun 2020, kondisi ini membuat hampir semua kalangan menggunakan teknologi
sebagai penyambung komunikasi dan silaturahmi. Work from home dijadikan sebagai
solusi yang tepat untuk menghambat penyebaran virus tersebut, sementara belajar
juga dari rumah bagi para pelajar remaja dalam hal ini menggunakan fasiliotas
teknologi sebagai pelengkap pembelajaran. Tentunya bukan hanya dikarenakan
kasus wabah ini saja, bahkan sejak tahun 1999, perkembangan teknologi yang
didukung revolusi industri 4.0, telah memicu perkembangan grafik meningkat
penggunaan teknologi di kalangan remaja pada umumnya. Hal ini bisa berdampak
positif dalam bidang pendidikan karena pembelajaran semakin dapat mudah
tercapai oleh para pelajar, namun di sisi lainnya ada dampak negatif yang
seringkali tidak mendapat filter secara pribadi oleh kalangan remaja dalam mengakses
data secara fulgar di internet.
Di
sinilah peran dan tugas serta tanggung jawab baik kedua orang tua, sekolah,
gereja dan Guru PAK sangat turut andil dan ambil bagian dalam menyelamatkan
kalangan remaja dari bahaya pengaruh teknologi. Teknologi menjadi kebutuhan
namun bimbingan iman dan tidak serta merta menyingkirkan teknologi sebagai
kebutuhan mendasar pada masa kini. Gereja juga harus melek mata lebar-lebar,
kotbah tidak lagi harus monoton terhadap remaja. Streaming pada masa sekarang
ini menjadi suatu keharusan untuk menjangkau jiwa-jiwa sampai dibelahan bumi
yang paling ujung sekalipun. Dampak streamingpun dirasakan bahwa jemaat atau
warga gereja seakan tidak merasakan lagi ibadah secara nyata. Namun itulah
kenyataan harus kita hadapi bersama. Khususnya bagi kalangan remaja harsu benar-benar
diarahkan apakah mereka lebih mendahulukan kesenangan bermain games atau
daripada membaca Alkitab, bersaat teduh, berdoa, beribadah di gereja, membaca
buku pelajaran atau lebih banyak menggunakan gawainya.
PAK remaja adalah Pendidikan
Agama Kristen yang juga dapat diartikan sebagai suatu usaha membawa para remaja
dalam rana berpikir, kerohanian dan bersosialisasi dengan melalui firman Allah dibawah bimbingan Roh Kudus dengan sejumlah
pengalaman belajar yang dilaksanakan gereja sehingga menghasilkan pertumbuhan rohani yang berkesinambungan berupa tindakan
kasih terhadap sesamanya. Pendidikan Agama Kristen adalah suatu usaha untuk
mempersiapkan para remaja untuk memahami, mengamalkan dan
meng-ejawantahkan Kasih Kristus melalui kebenaran firman-Nya. Pendidikan Agama Kristen berfungsi untuk menumbuhkan sikap
dan perilaku remaja berdasarkan iman Kristen dalam kehidupan sehari-hari
yang dikondisikan usia dan dunia yang mereka sedang alami. PAK bukan hanya
menyampaikan pengetahuan tentang agama Kristen semata dengan tujuan untuk
meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan agar manusia dapat mengetahui
apa yang baik dan yang buruk serta secara moral baik, namun bagaiman melalui
PAK, anak remaja dapat mengenal jati dirinya sebagai ciptaan yang mulia dan
agung dari sang pencipta, untuk apa ia hadir di dunia dan berkarya bagi
kemuliaan-Nya.
Pendidikan
Agama Kristen sebagai usaha sengaja dan sistematis,
ditopang oleh upaya rohani dan manusiawi untuk mentransmisikan pengetahuan,
nilai, sikap, keterampilan, dan reformasi pribadi-pribadi, kelompok, bahan
struktur oleh kuasa Roh Kudus sehingga peserta didik hidup sesuai kehendak
Allah sebagaimana dinyatakan Alkitab, terutama dalam Yesus Kristus.[13] PAK remaja harus didelegasikan kepada guru
PAK, para pelayan Tuhan yang memiliki hati Bapa, hati yang mengasihi jiwa-jiwa.
Rela memberikan hidupnya bagi domba-domba-Nya hingga domba-domba-Nya mengalami
kehadiran dan pribadi-Nya. Sehingga pada
masa remaja mereka dapat menemukan siapa pencipta Agung dan Mulia itu, didalam
Tuhan Yesus Kristus. Menemukan jalan kebenaran itu memang tidak semudah
membalikan telapak tangan, membutuhkan ekstra kerja keras dan tekun dalam
membimbing dan mengayomi para anak remaja pada masanya karena di masa ini
mereka sedang dalam masa transisi dan sedang menghadapi serba kebingungan
mencari identitas.
PAK
remaja harus dapat menyederhanakan titah Tuhan dan ajaran-Nya melalui scope
yang lebih luas dengan model dan gaya bahasa yang diperuntukkan anak remaja
sehingga mereka dapat memahami dan mengerti maksud dan tujuan Injil untuk
diterapkan dalam kehidupan keseharian mereka. PAK bagi anak remaja tentu beda
dengan penyuguhan PAK bagi orang dewasa. Ada beberapa hal pola dan metode yang
diterapkan bagi mereka sehingga daya tarik baik untuk menerima pengajaran yang
hendak disampaikan maupun feedback yang diberikan juga selaras dengan usia dan
kebutuhan secara psikologis mereka. Muatan Injil yang murni diberikan kepada
para anak remaja harus bermuatan model dan gaya dikondisikan sesuai usia dan
kekinian anak remaja pada masanya. Anak remaja di tahun 1980 tentu berbeda
dengan kondisi yang dialami anak remaja pada tahun 2020 ini. Tentunya ada
beberapa aspek penting yang mempengaruhi pertumbuhan jiwa, psikologis dan hal
lainnya yang dapat membuka cakrawala dan paradigma anak remaja dalam merespon
kebenaran firman Tuhan melalui media PAK bagi remaja. Media yang tersedia saat
ini sudah barang tentu sangat dipengaruhi dan terikat dengan yang namanya
IPTEK. Sebagai tenaga pendidik, PAK kepada anak remaja dapat terlaksana dengan
baik dan mulus bisa dibantu melalui teknologi yang tersedia dan mumpuni. Dampak
teknologi ini sangat deras dirasakan disetiap kalangan, karena manusia pada
prinsipnya tidak bisa terlepas dengan pengaruh teknologi.
PAK
remaja dikondisikan usia dan sisi psikologis, muatan firman dan kebenaran yang
disampaikan harus dikemas dalam bingkai jiwa remaja disertai pola pikir dan
pada masa serta kondisi yang ada pada saat itu. Bila pada masa saat itu sedang trend atau lagi in dalam kegandrungan gadged, maka kebenaran firman yang dituangkan
melalui teknologi sedapatnya bisa diraih oleh para anak remaja sebagai trendy kekinian mereka. Sebagai contoh,
misalnya sekarang ini para anak remaja lebih banyak menggenggam gadged daripada
memegang buku pelajaran, maka melalui kebenaran firman yang hidup sedapatnya
disampaikan bahwa belajar adalah ibadah. Gadged bukanlah musuh di mana
teknologi sebagai alat untuk mempermudah pekerjaan manusia, kita dapat
memanfaatkan media dan sarana melalui teknologi untuk dapat mengembangkan
pengetahuan dan belajar lebih dalam melalui sarana tersebut. Anak remaja akan
dapat mudah memahami bila disampaikan dengan bahasa yang sederhana disesuaikan
dengan bahasa mereka (anak gaul). Karena itu PAK bagi anak remaja jangan
menggunakan bahasa baku atau formil, namun juga sopan dan tertata dengan benar
sesuai bahasa akademisi PAK di mana inti dasar kebenaran Firman Tuhan tetap
tercapai disampaikan.
PAK
remaja melalui gereja, guru PAK, dan pelayan Tuhan, mereka
dapat mendengar Injil, mengalami maknanya, menyadari kasih Allah atas hidup
mereka, dan meresponsnya dalam iman dan kasih. PAK remaja berupaya untuk
menolong para remaja untuk hidup dalam terang Injil, dapat menemukan
kepribadian yang tepat, dapat menerima tanggung jawab bagi makna dan nilai yang
menjadi jelas bagi mereka ketika mereka dapat mengidentifikasikan diri mereka
sendiri dengan tujuan dan misi gereja dalam dunia. PAK remaja merupakan
pendidikan yang menyadarkan setiap remaja akan Allah dan kasih-Nya dalam Yesus
Kristus, agar mereka mengetahui siapa diri mereka yang sebenarnya. Untuk apa
mereka dilahirkan dan berada di dunia ini.sehingga merekamemiliki arti hidup di
dalam Kristus dan berkarya bagi kemuliaan-Nya.
PAK
bagi remaja ini bertujuan untuk menjadikan remaja
bertumbuh sebagai anak Allah dalam persekutuan Kristen, memenuhi panggilan
bersama sebagai murid Yesus di dunia sampai di langit yang baru dan bumi yang
baru. Kaum remaja harus mengenal Yesus Kristus dan jika sudah mengenal Dia,
harus rela memutuskan segala ikatan lain untuk mengikut dan melayani Dia. Jika
remaja mau dipakai Tuhan bagi pekerjaan-Nya, justru diusia merekalah yang dapat
menjadi alat yang sangat efektif dan berguna untuk membangun kerajaan-Nya di
antara umat manusia. Gairah remaja senantiasa berbunga-bunga dalam
keseharian, penuh semangat jiwa muda, bergairah dalam melakukan segala sesuatu
untuk dikerjakan. Hanya saja anak remaja masih sangat perlu bimbingan dan
pendampingan orang yang dewasa untuk mengarahkan dan menuntun mereka agar tidak
sembrono, salah arah saja. Dalam hal ini, guru PAK sangat berperan efektif dan
bertanggung jawab sebagai tutor dan juga mentor yang handal dalam membimbing
mereka, sebagai seorang sahabat yang setia. Di samping fungsi dan peranan guru
PAK, ada juga yang berperan penting, yakni keluarga, gereja dan para pelayan
Tuhan yang mencintai pelayanan kepada anak-anak remaja.
Pendidikn
Kristen Dalam Keluarga
Keluarga memiliki andil yang besar terhadap setiap
anggota keluarganya, tiap anggota memiliki peranannya masing-masing. Dalam
berkeluarga akan saling menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang antar sesama.
Bagi anak keluarga sangatlah penting. Keluarga sebagai tempat untuk berlindung,
memperoleh kasih sayang. Peran keluarga sangatlah penting untuk perkembangan
anak pada masa-masa yang mendatang, baik secara psikologi maupun secara fisik.[14] Tanpa keluarga anak akan
merasa sendiri, tidak ada tempat untuk berlindung. Cinta, siapa yang tidak
kenal cinta. Cinta dapat merubah kehidupan menjadi lebih baik, hidup yang damai
dan tentram. Cinta datang dari perasaan dari hati kita untuk melindungi serta
memahami orang lain. Keluargalah yang memegang peranan penting tentang cinta
ini. Kasih sayang keluargalah yang mengajarkan cinta pertama kali kepada anak
semenjak mereka terlahir dan melihat dunia ini.
Keluarga berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan
anak baik dari jasmani maupun rohani atau mental. Keluarga yang baik akan
memberikan pengaruh yang baik pada mental dan perilaku anak, keluarga berperan
mengawasi, membimbing, dan memberikan semangat/motivasi agar anak tumbuh
menjadi pribadi yang baik di masa depan nanti.
Orangtua dipanggil ALLAH untuk membina anak-anak
mereka baik dalam aspek spiritual maupun jasmaniah. Indah sekali bahwa TUHAN
melimpahkan hak istimewa kepada orangtua sebagai peletak dasar nilai-nilai
keutamaan yang cukup kuat dalam menopang kehidupan sebuah bangsa yang dimulai
dari keluarga.[15]
Yulia
Singgih menyebutkan peran orangtua dalam perkembangan
anak yaitu: Pertama sebagai orangtua
mereka membesarkan, merawat, memelihara, dan memberikan anak kesempatan
berkembang. Kedua, Sebagai guru,
mengajarkan ketangkasan motorik, keterampilan melalui latihan-latihan,
mengajarkan peraturan-peraturan, tata cara keluarga, tatanan lingkungan
masyarakat, menanamkan pedoman hidup bermasyarakat. Ketiga, sebagai tokoh teladan, orangtua menjadi tokoh yang ditiru
pola tingkahlakunya, cara berekspresi, cara berbicara. Keempat, sebagai pengawas, orangtua memperhatikan, mengamati
kelakuan, tingkah laku anak. Mereka mengawasi anak agar tidak melanggar
peraturan di rumah maupun di luar lingkungan keluarga.[16]
Kesimpulan
Peranan
keluarga sangat besar dalam menyampaikan suara kebenaran secara konkrit.
Keluarga adalah lembaga masyarakat yang terkecil, namun demikian hal terpenting
karena di dalamnya terdapat anak-anak
yang dipersiapkan untuk bertumbuh sebagai pewaris kerajaan Allah kelak. Perlu
kita perhatikan bahwa keluarga pertama yang diciptakan Allah adalah keluarga
Adam dan Hawa (Kejadian 1:27-28), di mana Allah menghendaki PAK dalam keluarga
(Ulangan 6:4-9). Mengapa demikian? Karena keluarga merupakan tempat untuk bertumbuh
yang meliputi tubuh, akal budi, hubungan sosial, kasih, dan rohani terjadi.
Selain itu, keluarga juga merupakan pusat pengembangan semua aktivitas, yakni
sebagai tempat untuk mentransfer nilai-nilai, norma-norma dan kaidah kehidupan.
Di samping itu, keluarga juga bisa sebagai laboratorium hidup bagi setiap
anggota keluarga, dan saling belajar hal baik, saling menerima, saling
melengkapi karena ada unsur kekeluargaan seikat dalam nafas jiwa mereka.
Keluarga adalah pusat pendidikan yang pertama
dan utama, dengan orang tua sebagai pendidik. Jauh sebelum ada pendidikan formal sekolah, keluarga sudah ada, bahkan sejak jaman purba, hanya saja PAK lahir ketika
kekristenan mulai tumbuh dan berkembang. Tanggung jawab orang tua sebagai pendidik, khususnya dalam hal iman atau
agama tercatat dalam Perjanjian Lama (Ulangan 6), namun tanggung jawab ini
umumnya diserahkan sepenuhnya kepada guru agama di sekolah maupun jemaat, hal ini
disebabkan oleh karena kebanyakan orang berpikir bahwa pendidikan adalah yang dilaksanakan secara formal saja dan dikerjakan hanya oleh guru dibidangnya, yakni yang dilakukan menggunakan bentuk
skolastik, dengan kurikulum dan guru yang khusus. Hanya segelintir sekali bahkan sedikit yang berpikir bahwa pendidikan dapat dilaksanakan tanpa kelas
maupun kurikulum.
Peran
serta kedua orang tua, ayah dan ibu, sangat dominan dalam membentengi putra
putrinya dari pengaruh luar. Memberi asupan nutrisi yang sehat dan cukup dalam
hal lahiriah merupakan kebutuhan vital bagi pertumbuhan fisik anak-anaknya,
namun asupan batiniah dan kerohanian mereka juga harus dipenuhi. Pertama-tama
melalui sikap dan perbuatan kedua orang tuanya. Mereka melihat dan merekam apa
yang dilakukan dan dikerjakan oleh kedua orang tuanya. Mereka akan meniru dan
terekam di otak bawah sadar mereka baik apa yang mereka lihat terlebih secara
genetika yang diturunkan oleh kedua orang tuanya. Oleh karena itu warisan yang
ideal sbenarnya bukanlah warisan harta benda. Anak-anak memiliki rejeki dan
berkatnya secara khusus dari Allah melalui tanggung jawab yang mereka kerjakan.
Warisan ideal itu adalah kebenaran firman yang diejawantahkan dari kedua orang
tuanya. Ada baiknya gereja memberikan katekisasi bagi kedua pasangan yang
sebelum masuk ke jenjang pernikahan kudus untuk memahami pentingnya warisan
terpenting yang akan kedua belah pihak berikan kepada anak-anak mereka. Bukan
warisan harta benda, melainkan warisan kebenaran yang telah mereka berdua
jalanidan hidupkan dalam kehidupan mereka hingga ketika kedua pasangan ini
masuk ke dalam mahligai pernikahan, keduanya menemukan kebenaran sejati dan
bersama-sama menghidupkannya dalam segala aspek kehidupan dan rumah tangga
mereka yang nantikan akan diturunkan kepada anak-anak mereka, dalam hal ini
anak remaja mereka. Anak remaja senantiasa mudah mengamati, merekam dan meniru
dari apa yang ada disekitarnya, bahkan mereka selalu melihat sosok figur yang
dapat diandalkan.
Faktor
inilah yang seharusnya menjadi pemikiran kita bersama bahwa PAK di dalam
keluarga juga harus diterapkan dan dihidupkan. Dihidupkan melalui mezbah doa
keluarga disertai ibadah kecil, mezbah doa pribadi, rutinitas kebiasaan membaca
Alkita setiap hari, saat teduh, beribadah bersama, sharing keluarga bisa
melalui tamasya, makan bersama, nobar (nonton bareng) di bioskop, dirumah, dan
sebagainya. Rutinitas ini akan membentuk kebiasaan yang positif untuk semua
anggota keluarga, khususnya anak remaja. Mereka akan terbiasa dengan kumpul
bersama keluarga yang didahului atau sesudahnya dengan makan malam bersama,
yang mana nantinya anak remaja terbiasa dan menjadi kebiasaan untuk
bercengkerama dengan keluarga sampai mereka membentuk keluarga baru. Mereka
dapat mengambil contoh dan meniru kebiasaan yang terbentuk dari keluarga orang
tuanya yang harmonis. Kata harmonis mungkin juga tidak se ideal yang dipikirkan
dan diperkirakan oleh banyak orang. Bisa saja ada keluarga yang tidak
seharominis karena kepapahan masalah ekonomi, namun setidaknya pihak orang tua
tetap melestarikan kumpul bersama keluarga seperti pepatah mengatakan “mangan ora mangan sing penting tetap kumpul”.
Hal ini juga bisa menjadi suatu hal positif bagi anak remaja bahwa keadaan
dalam situasi apapun bahwa keluarga tetap nomor satu yang harus diprioritaskan.
Orang tua akan bekerja keras demi menafkahi keluarga dan anak-anak mereka.
Menyekolahkan anak-anaknya bahkan hingga kejenjang perguruan tinggi. Ini bisa
menjadi teladan positif bagi anak remaja bahwa orang tua bertanggung jawab
terhadap anak dan keluarganya. Walau tidak sedikit dan cukup banyak anak remaja
yang justru mengabaikan kasih sayang kelurga dan lebih memilih memberontak
melawan kedua orang tuanya karena faktor pergaulan dan keinginan bebas,
merasaak terkekang oleh perturan kelurga yang justru hal ini membuat kebaikan
bagi anak remaja supaya tidak terjerembab oleh pergaulan bebas.
PAK di tengah keluarga berhasil bukan hanya
saja lewat pengajaran formal, melainkan keteladanan orang tua. Keteladanan
adalah merupakan pendidikan iman yang paling efektif sepanjang masa. Pengajaran
PAK formal di gereja dan di sekolah menjadi gagal karena tidak dilandasi dengan
keteladanan. Yesus berhasil dalam pengajarannya karena ia sangat menekankan
keteladanan bagi murid-murid-Nya. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
“Ikutlah teladan-Ku”. PAK dalam keluarga haruslah berbasiskan kepada
keteladanan dari orang tua kepada anak-anaknya sehingga keluarga hidup dalam
keharmonisan.[17]
Kegagalan
yang terbesar dalam keluarga Kristen adalah
ketika keluarga tidak ada kesatuan hati dalam mendidik anak, yaang kedua
ketidaksingkronan antara yang dijarkan dengan yang dilakuakn oleh orang tua
dalam hidup sehari-hari. Keluarga
Kristen adalah persekutuan hidup antara ayah, ibu, dan anak-anak yang telah
percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi
serta berusaha untuk meneladai hidup Yesus dengan pengajaran-Nya dalam
kehidupan sehari-hari. Keluraga
merupakan tempat tumbuh kembangnya seorang anak baik fisik, sosial maupun
imanya.
Peran
ayah dan ibu sangat dominan dalam hal ini, maksudnya dalam memberi bimbingan
dan mungkin pada masa anak remaja lebih tidak menyukai nasehat yang berlebihan,
tapi setidaknya, contoh teladan dalam perbuatan, sikap, perkataan dan bahasa
tubuh lebih dapat menginspiratif jiwa dan pikiran anak remaja. Orang tua yang
baik dan bijak tentunya membawa anak-anaknya masuk dalam pembinaan iman
keluarga. Sesibuk apapun pekerjaan baik di dalam dan di luar rumah, kedua orang
tua wajib memberi pembinaan kerohanian, selain arahan dalam hal norma dan
tradisi dalam keluarga. Pembinaan iman dan kerohanian bagi anak remaja harus
disertai hati yang sabar dan tekun untuk mengayomi mereka. Anak remaja
hendaknya tidak melihat dan melihat kedua orang tua sebagai figur orang tua
yang dituakan, tetapi hendaknya kedua orang tua harus menyadari bahwa mereka
bisa menjadi teman atau sebagai sahabat sehingga anak remaja dapat lebih
terbuka dan mereka. Bimbingan dan pembinaan kerohanian dapat diejawantahkan
dalam sikap dan prilaku yang lebih konkrit daripada perkataan. Bahasa tubuh dan
contoh perbuatan mungkin sangat dapat diterima oleh anak remaja. Kedua orang
tua harus senantiasa meluangkan waktu mereka untuk anak-anak remajanya dan
tidak “kepo” tapi lebih kepada
kepeduliaan sebagai seorang teman atau sahabat yang menampung curhatan mereka.
Khususnya anak gadis remaja, di mana mereka membutuhkan teman dekat yang lebih
condong kepada ibunya, bahkan tidak menutup kemungkinan kepada ayahnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Andar Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan, BPK
Gunung Mulia, Jakarta:2019
E.G.Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen, BPK
Gunung Mulia, Jakarta: 1985
Franky, Pendidikan Andal Di Era Millenial,
Program Pascasarjana Universitas Profesor Doktor Moestopo (Beragama), Jakarta:2019
Harry A. Hollet &
Clarence E. Macartney, The Chosen Twelve Plus One (Dua Belas Murid Tuhan
ditambah Paulus), Gandum Mas, Malang:2010
Johanes Kurniawan, Dkk, Formulasi Pendidikan
Agama Kristen (Bunga Rampai Kolokium Didaktikum), Ekumene Literature (ELTE), Jakarta:2019
Johanes Kurniawan, PAK Remaja, PT Mitra Cahaya
Mas, Jakartra:2021
John Wiley and Sons,
Introduction to Qualitative Research Methdos; A Guidebook and Resource (Kanada:
New Jersey, 2016). 42
John Stott, Isu-Isu Global
Menantang Kepemimpinan Kristen, Yayasan Komunikasi Binakasih/OMF, 2014
Albi anggito & Johan Setiawan, Metodologi
Penelitian Kualitatif (jawa barat: CV Jejak, 2018).
Reni Triposa, Yonatan Alex Arifianto, and Yudi
Hendrilia. "Peran Guru PAK sebagai Teladan dalam Meningkatkan Kerohanian
dan Karakter Peserta Didik." Jurnal Pendidikan Agama Kristen (JUPAK) 1.2
(2021): 124-143.
Robert R. Boehlke, Sejarah
Perkembangan Pemikiran dan Praktek PAK dari Plato sampai Ig. Loyola, BPK Gunung
Mulia, Jakarta:1994.
Saiful Sagala, Kemampuan
Profesional Guru dan Tenaga Kepemimpinan, Memberdayakan Guru, Tenaga
Kependidikan dan Masyarakat Dalam Managemen Madrasah, Alfabeta, Bandung:2009.
Singgih Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak
& Remaja, BPK Gunung Mulia, Jakarta:2018
Singgih D. Gunarsa, Psikologi Praktis: Anak,
Remaja dan Keluarga, BPK Gunung Mulia, Jakarta:1999
Singgih D. Gunarsa, Psikologi Pembimbing, BPK
Gunung Mulia, Jakarta, 1995
Soesilowindradini, Psikologi Perkembangan Masa
Remaja, Usaha Nasional, Surabaya:2019
Sudirman, Pengertian Pendidikan, BPK Gunung
Mulia, Jakarta, 2006
Teressa M. Mc
Devitt, Jeanes Ellis Omrod, Child
Development and Education, Merril Prentice Hall, Colombos Ohio:2002
Thomas H. Groome. Christian Religious Education:
Sharing Our Story and Vision. Harper, San Fransisco : 1980.
Thomas Lickona. Pendidikan Karakter. Kreasi
Wacana, Bantul: 2012
Susanto, Meneladani Jejak
Yesus Sebagai Pemimpin, Yogyakarta: Andi, 2010.
Sen Sendjaya, Ph.D, Jadilah
Pemimpin Demi Kristus, Literatur Perkantas, Jakarta:2016
Stephen Tong, Arsitek Jiwa,
Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta:1995.
Thomas H. Groome. Christian
Religious Education: Sharing Our Story and Vision. Harper, San Fransisco:1980.
Welly Pandensolang, Roh
Kudus dan Gereja, Yayasan Agape Jaya Indonesia, Jakarta:2021
Y. Gunawan, Pr.,
Kepemimpinan Kristen: Melayani Sepenuh Hati, Kanisius, 2014
Y. Bambang Mulyono,
Mengatasi kenakalan remaja: dalam perspektif pendekatan - pendekatan
sosiologis-psikologis-teologis, Yayasan Andi Offset, Yogyakarta:1993
William J. Paul, The New
Education and Religion. Association Press, 1986
https://journal.sttsimpson.ac.id/index.php/EJTI/article/view/125
https://kinaa.iakn-toraja.ac.id/index.php/ojsdatakinaa/article/download/70/35
[1] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai
Pustaka, Jakarta: 1994
[2] Andar Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan, BPK Gunung
Mulia, Jakarta: 1998
[3] Soesilowindradini, Psikologi Perkembangan Masa Remaja,
Usaha Nasional, Surabaya:2019, hlm. 206-212
[4] Iris V. Cully. Dinamika Pendidikan Kristen. BPK Gunung
Mulia, Jakarta:2003. Hal.123
[5] Thomas Lickona. Pendidikan Karakter. Kreasi Wacana,
Bantul: 2012, Hal. 26.
[6] Sudirman, Pengertian Pendidikan, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2006
[7] Singgih D. Gunarsa, Psikologi Pembimbing, BPK Gunung Mulia,
Jakarta, 1995
[8] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, Erlangga, 1990
[9] Johanes Kurniawan, PAK Remaja, STT Ekumene Jakarta, 2021
[10] W.S. Lasor, Pengantar Perjanjian Lama 1, 2., BPK
Gunung mulia, Jakarta:2012
[11] Sardiman. Interaksi dan
Motivasi Belajar-Mengajar, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta:2007. Hal.
125
[12] B.S. Sidjabat, Mengajar
Secara Profesional, Kalam Hidup, Bandung:2010. Hal. 105,127
[13] Junihot Simanjuntak, Filsafat
Pendidikan dan Pendidikan Kristen, ANDI, Yoyakarta: 2013, hal. 68.
[14] Singgih D. Gunarsa, Psikologi Praktis: Anak, Remaja dan Keluarga , BPK Gunung Mulia, Jakarta:1999, hal.26
[15] Sostenis Nggebu, Desain ALLAH bagi Anak dan Remaja, Biji
Sesawi Press, Klaten, Jawa Tengah: 2016
[16] Yulia Singgih, Asas-asas Psikologi Keluarga Idaman, BPK Gunung Mulia, Jakarta: 2002,
hal.44-45.
[17] J.M. Nainggolan, Strategi Pendidikan Agama Kristen,
Generasi Info Media, Jawa Barat, 2008, hal. 40
ORANG TUA DAN GURU PAK ADALAH PENGAMPU PENDIDIKAN Rumah adalah tempat ternyaman bagi anak-anak, dan seluruh anggota keluarga baik itu suami ...
-
ORANG TUA DAN GURU PAK ADALAH PENGAMPU PENDIDIKAN Rumah adalah tempat ternyaman bagi anak-anak, dan seluruh anggota keluarga baik itu suami ...
-
Dr. Johanes Kurniawan, S.Th., M.Pd.K adalah seorang dosen Pendidikan Agama Kristen pernah mengungkapkan bahwa guru PAK tidak akan pernah ter...
-
The Myth of the Rumah Tusuk Sate in Chinese Culture from a Christian Perspective Johanes Kurnia...
-
Peran Orangtua dan Guru PAK di Era Revolusi Industri 4.0 (Gadged dan Tantangannya) Johanes Kurniawan STT Ekumene Jakarta johanes.k...
-
Etika dalam Alkitab tidak dapat dipisahkan dari relasi manusia dengan Allah, sebab moralitas Kristen berakar pada kehendak Allah sendiri. ...
-
Anak adalah warisan ilahi yang dititipkan ALLAH kepada sepasang suami istri yang dikemudian hari mereka memanggilnya ayah & ibu. Orang...
-
Setiap orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya dirumah sedangkan Guru (PAK) adalah orang tua kedua bagi setiap peserta didiknya. A...
-
Pendidikan utama bagi anak berawal dari kedua orangtuanya. Mereka adalah guru pertama dalam kehidupan anak yang didukung oleh guru PAK, gu...
