Follower

Thursday, April 24, 2025

 

Pendidikan utama bagi anak berawal dari kedua orangtuanya.
Mereka adalah guru pertama dalam kehidupan anak yang didukung oleh guru PAK, guru kedua disekolahnya sebagai role model Kristus yang mewariskan kebenaran secara konkret tentang kasih & menerima sesama apa adanya.

Kekristenan adalah pendidikan transformasi diri yang harus diwariskan serta meng-influence kepada sesama berhubungan tentang Kasih Kristus yang membawa sesama kepada rancangan keselamatan Allah sediakala.

Anak dilukiskan bagai kertas putih, melalui pendidikan akan membentuk karakternya dengan mengabaikan personalitas bawaannya. (John Locke).

Tugas - peran kedua orangtua & guru PAK, pelayan Tuhan di gereja mutlak berintegrasi serta bersinergi dalam mewujudkan hati Bapa bagi mereka sebagai manifestasi memenuhi Amanat Agung.

Literasi Trilogi PAK:
PAK Anak
PAK Remaja
PAK Dewasa
Tersedia di: 
> @dikaiosunestore tokopedia
> TB Immanuel Proklamasi


Thursday, April 17, 2025

 


Peran Orangtua dan Guru PAK di Era Revolusi Industri 4.0 (Gadged dan Tantangannya)

 

Peran Orangtua dan Guru PAK di Era Revolusi Industri 4.0

(Gadged dan Tantangannya)

Johanes Kurniawan

STT Ekumene Jakarta

johanes.k@sttekumene.ac.id

 

 

Abstract

Primary education starts from the family through parents as teachers – the main educators for their children. Teachers in schools, especially Christian Education teachers, are second parents to their children. Both have a major and important role in bringing children to respond to the development of the industrial revolution era 4.0 as an era of disruption and its challenges. PAK teachers are required to be professional in their competence to be able to educate students to change character in warding off habits against the impact of gadged influences and challenges. In this study using qualitative methods and literature review. Through this article, it is hoped that it will be able to open the horizon and paradigm mindset of every task and responsibility of parents, PAK teachers including schools and churches to be able to anticipate and even give a positive charge in fortifying the impact of the influence of the revolution era 4.0 and its challenges in the future. The true gospel changes the paradigm of every believer to serve as His role model and impact the world.

 

Keywords: parents, PAK teachers, revolution era 4.0, gospel.

 

Abstrak

Pendidikan utama bermula dari keluarga melalui orangtua sebagai guru – pendidik utama bagi anak-anaknya. Guru disekolah khususnya guru Pendidikan Agama Kristen adalah orangtua kedua bagi anak yang didiknya. Keduanya memiliki peran utama dan penting dalam membawa anak dalam menyikapi perkembangan era revolusi industri 4.0 sebagai era disrupsi berikut tantangannya. Guru PAK dituntut untuk professional dalam kompetensinya mampu mendidik peserta didik kepada prubahan karakter dalam menangkal kebiasaan terhadap dampak pengaruh gadged dan tantangannya. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kajian Pustaka. Melalui artikel ini diharapkan mampu membuka cakrawala dan mindset paradigma dari setiap tugas dan tanggung jawab para orangtua, guru PAK termasuk sekolah dan gereja untuk dapat mengantisipasi bahkan memberi muatan positifdalam membentengi dampak pengaruh era revolusi 4.0 berikut gadged dan tantangannya kedepan. Injil yang sejatinya menggubah paradigma setiap orang percaya untuk bertugas sebagai role model-Nya dan berdampak bagi dunia.

 

Kata Kunci: orangtua, guru PAK, era revolusi 4.0, Injil.

 

 

Pendahuluan

Tanggung jawab pendidikan Kristen pertama-tama dan terutama terletak pada orang tua, yaitu ayah dan ibu (Amsal 1:8). Banyak keluarga Kristen masa kini yang menyerahkan pendidikan rohani anak mereka sepenuhnya pada gereja atau sekolah. Mereka beranggapan bahwa gereja atau sekolah tentunya memiliki "staf profesional" yang lebih handal dalam menangani pendidikan rohani anak mereka. Namun, mereka lupa bahwa lama waktu perjumpaan antara anak mereka dengan pendeta, pastor, gembala, guru PAK, atau pembimbing rohani anak yang hanya beberapa jam dalam seminggu, yang tentunya terlalu singkat untuk mengajarkan betapa luas dan dalamnya pengetahuan tentang Allah. Satu hal lain yang terpenting adalah Allah sendiri telah meletakkan tugas untuk merawat, mengasuh, dan mendidik anak-anak ke dalam tangan orang tua. Merekalah yang harus mempersiapkan anak-anak mereka agar hidup berkenan kepada Allah. Gereja dan sekolah minggu hanya membantu dalam proses pendidikan tersebut. Tanggung jawab pendidikan Kristen memang bukan tugas yang mudah, baik bagi bangsa Israel pada zaman Perjanjian Lama maupun bagi kita pada zaman sekarang. Setiap zaman memiliki kesulitan dan pergumulan masing-masing, namun prinsip-prinsip dasar pendidikan Kristen yang Alkitabiah tetap bertahan di tengah berbagai teori pendidikan baru yang muncul.

Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan dengan maksud untuk mewariskan kepada generasi–generasi yang baru dari semua pengalaman peradaban yang dikembangkan oleh generasi–generasi yang dahulu dalam berbagai aktivitas. Demikianpun tugas guru sangat penting dalam pendidikan dikarenakan agar peserta didik dapat belajar bagaimana mereka bertumbuh dengan dewasa sesuai dengan nilai kehidupan sejati, dimana  nara didik dan warga gereja dapat belajar mengenal Allah dan tugas guru ialah memberikan pengarahan, dorongan, fasilitas dan lain sebagainya. Pengertian “Pendidikan” dalam kamus bahasa Indonesia berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, perbuatan, cara mendidik.[1] 

            Pada era sekarang ini pendidikan semakin menghadapi tantangan yang berat. Hal itu dikarenakan ada banyak persoalan menghadang didepan sebagaimana yang nyata dilapangan dan dapat di dengar dan dilihat dari berbagai media yang ada. Hal ini disebabkan oleh  terjadinya perubahan yang begitu cepat pada ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi yang terus menerus mendorong terjadinya perubahan kehidupan yang cepat, dan yang diramalkan oleh para futurolog mengenai keadaan manusia yang berubah secara cepat akan dapat menimbulkan beberapa gejolak negatif adalah benar.

            Pengajaran kebenaran sebagaimana diungkapkan Alkitab perlu diaktifkan dan kembangkan “let the Bible speaks!” dan harus menjadi keyakinan seorang guru PAK sebagai pendidik Kristen, karena itu panggilan seorang guru PAK sebagai pendidik dan pembina amat mendesak untuk dikembangkan yakni menolong anak untuk “belajar melakukan” yang diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus (Andar Ismail, 1998).[2] Sebagai pendidik dan guru, harus tumbuh dalam pemahaman Alkitab dan  harus meningkatkan kualitas spiritual dan mentalnya agar dapat memainkan  peran   sebagai ”garam dan terang dunia” di  lingkungan   profesinya seperti yang dituliskan dalam Matius 5:13–16 yang berbunyi:

(13) “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

(14) Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. (15) Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. (16) Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Karunia hikmat dan pengetahuan serta keguruan yang ada pada diri seorang guru adalah anugerah Allah (I Korintus 12:4–11).

(4) Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. (5) Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. (6) Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.

(7) Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. (8) Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. (9) Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. (10) Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat,dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh.Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. (11) Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

Para guru adalah saksi Tuhan di dalam profesi keguruannya dan sebab itu, pekerjaan itu harus ditunaikan sebagai persembahan bagi Tuhan (bd. Kolose 3:17,23).

(17) Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

(23) Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

 

Metode

Artikel ini menggunakan metode kualitatif dilakukan secara ilmiah atau merupakan studi pustaka (Library Research) atau “qualitative method with a literature approach”.   serta dapat dipertanggung jawabkan secara akademis. Peneliti melakukan studi riset terhadap beberapa literatur seperti Alkitab, artikel, dan buku (sebagai sumber primer) yang memiliki keterkaitan terhadap upaya yang sedang dilakukan. Serta didukung oleh sumber literatur lain seperti buah pemikiran beberapa orang yang menurut penulis bermanfaat untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan referensi dalam penelitian yang sedang dilakukan sebagai sumber sekunder.

 

Pembahasan

            Permasalahan di atas adalah merupakan tantangan yang besar bagi tenaga pengajar atau pendidik PAK karena PAK ialah suatu pendidikan, yang di dalamnya guru PAK dipanggil Allah untuk berkarya, dapat diartikan sebagai usaha sadar untuk membimbing, melengkapi, serta membina, individu maupun kelompok agar mengalami pertumbuhan dalam segala aspek : fisik, mental, moral, relasional dan spiritual.

            Pada proses pembelajaran kita dapat melihat begitu besarnya tugas dan tanggung jawab yang ada pada “Pendidikan Agama Kristen”, lalu penulis bertanya “apakah Pendidikan Agama Kristen mempengaruhi pertumbuhan jiwa atau tingkah laku seseorang?” Jawaban yang pertama, tentu saja belajar “Pendidikan Agama Kristen”, berarti kita belajar untuk bertumbuh dengan kepribadian yang sehat (wholeness) di tengah berbagai krisis dan liku–liku kehidupan tetapi yang lebih penting ialah belajar mengenal Allah. Yang kedua adalah melalui Pendidikan Agama Kristen  membuat remaja menemukan sumber makna hidup hanya ada didalam   Tuhan Yesus Kristus yang   penuh  kasih dan   karunia   dan    kebenaran (Yohanes 1:14-17;10:10).

(14) Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (15) Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: :Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” (16) Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; (17) sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.

(10:10) Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

 

            Perdamaian dengan Allah didalam Yesus Kristus lah yang membuat terjadinya perubahan arti dan orientasi hidup. Jika orang benar-benar mengerti kebenaran maka kebenaran itulah yang akan memerdekakan hati, pikiran dan sikap mental seorang remaja. Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen tampaknya haruslah sedemikian rupa menjawab pencarian identitas diri seorang remaja, yaitu cara beriman anak remaja berkaitan erat dengan krisis identitasnya. Alkitab menegaskan bagaimana Allah memanggil dan mendidik manusia untuk belajar mengenal Dia, agar mengasihi Dia  dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi (Markus 12:29–30).

(29) Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. (30) Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

Karena orang mengenal Tuhan dan hormat kepada Dia, seorang remaja memperoleh ketentraman batiniah serta menjauhkan diri dari kejahatan. Hal ini benar–benar kebutuhan manusia masa kini. Banyak orang tidak mengenal Tuhan dengan benar dan tidak takut kepada Dia sehingga perilaku mereka bertentangan dengan nilai kehidupan manusia sejati.

            Pada masa usia ini (12–19 tahun), remaja mengalami krisis identitas diri (indentity crisis), dan perasaan serba canggung (role confusion). Hal ini menyebabkan terjadi banyak perubahan–perubahan pada pola pikir yang dialami oleh remaja dalam konsep-konsep moral, disiplin dan iman.  Soesilowindradini  menulis  perubahan  pola  pikir  remaja  salah  satunya  adalah:   konsep disiplin.   Konsep   disiplin  yang   dimaksud  yaitu:  Anak  remaja  merasa  bahwa  disiplin  atau ketertiban itu harus ada, akan tetapi  tidak  menghendaki  lagi  penjagaan  disiplin seperti masa kanak–kanak.[3]

 

Peran, Tujuan dan Makna Pendidikan Bagi Anak

Kata pendidikan merupakan terjemahan dari “education” (Inggris) yang dari bahasa latin “ducere” yang berarti membimbing (to lead), ditambah awalan “e” yang berarti keluar (out). Jadi arti dasar dari pendidikan adalah suatu tindakan untuk membimbing keluar. Dalam bahasa Yunani, pendidikan;  Pedagogik, atau “paedos“, yang berarti anak laki-laki, dan “agogos“ artinya mengantar, membimbing.  Jadi kata pedagogik secara harfiah berarti pembantu anak laki-laki. Menurut sejarah pada jaman Yunani kuno dimana seseorang yang pekerjaannya mengantarkan anak majikannya ke sekolah. Namun kemudian makna tersebut secara kiasan berkembang   menjadi  adalah  seorang  ahli,  yang  membimbing  anak  kearah  tujuan  hidup  tertentu.  Prof. Dr. J. Hoogveled (Belanda): pedagogik adalah ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak ke arah tujuan tertentu, yaitu supaya ia kelak “mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya.” Jadi pedagogik adalah ilmu mendidik anak. Mendidik menurut apa yang benar untuk harus ia lakukan, perbuat dan terapkan dalam hidupnya.

            Langeveld membedakan istilah “pedagogik” dengan istilah “pedagogi”.  Menurut Langeveld, pedagogik diartikan dengan ilmu pendidikan, lebih menitik beratkan kepada pemikiran, perenungan tentang pendidikan, suatu pemikiran bagaimana kita membimbing dan mendidik anak. Sedangkan istilah pedagogi, berarti pendidikan, yang lebih menekankan kepada praktek, menyangkut kegiatan mendidik, kegiatan membimbing anak.

            Etimologi kata Pendidikan adalah usaha manusia dalam meningkatkan pengetahuan tentang alam sekitarnya. pengertian pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (kbbi) adalah sebuah proses ataupun tahapan dalam pengubahan sikap serta etika maupun tata laku seseorang atau kelompok dalam meningkatkan pola pikir manusia melalui pengajaran dan pelatihan serta perbuatan yang mendidik. Hal ini sangat berkaitan dengan tujuan bahwa arti pendidikan bukan hanya sebagai proses ataupun sistem transfer pengetahuan semata (knowledge) tetapi sebagai proses pengubahan karakter, akhlak, etika, dan norma dari setiap peserta didik atau warga gereja. Cully, mengatakan “Guru adalah pembimbing serta sesama peserta dengan si anak”. Dengan demikian guru bukan hanya menyampaikan materi saja tetapi juga membimbing, mendidik dam membentuk kepribadiannya ke arah yang baik.[4]  Guru  PAK senantiasa  melakukan  gerakan pendidikan karakter yang dimulai dari dirinya sendiri, yakni menjadi contoh teladan (role model) bagi nara didik dan warga gereja yang kemudian didukung oleh keluarga, gereja dan masyarakat. Keluarga, sekolah dan gereja sinergi kerjasama yang baik, komunikasi yang baik antara sekolah dengan orang tua nara didik dan dengan gereja. Dari ketiga lembaga tersebut, yang paling utama adalah keluarga. Thomas Lickona mengatakan “tentu saja pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab sekolah. Ia adalah tugas bersama semua orang yang bersentuhan dengan nilai-nilai dan kehidupan orang muda, dimulai dengan keluarga, dan meluas ke komunitas-komunitas iman”.[5]

            Pendidikan diawali dengan proses belajar untuk mengetahui suatu hal kemudian mengolah informasi tersebut untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini peranan lingkungan sangat mengikat dan mempengaruhi. Peranan lingkungan sangat berpengaruh terhadap kemajuan dan prestasi pendidikan. Hal ini dikarenakan setiap individu yang terlibat dalam proses pendidikan, di mana saling berinteraksi menjadi satu kesatuan dengan lingkungannya.

            Lingkungan pendidikan sendiri dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu :

            1. Pendidikan Formal

            Pendidikan Formal adalah pendidikan yang bisa didapati dengan mengikuti kegiatan atau program pendidikan yang terstruktur serta terencana oleh badan pemerintahan, progam-program yang sudah dirancang intitusi, departemen atau kementrian suatu Negara.  misalnya melalui sekolah ataupun universitas.

            2. Pendidikan Informal

            Pendidikan Informal adalah pendidikan yang dilakukan ditengah-tengah lingkungan keluarga dan kegiatan belajarnya dilakukan secara mandiri. Pendidikan informal pada umumnya tenaga pengajar atau pembimbingnya adalah bisa orang tua atau saudara yang dianggap mampu mengajar dan fasilitator. Kekurangannya adalah tidak adanya ketetapan pegangan kurikulum, tidak ada jenjang dalam proses pendidikannya, tidak ada ujian sesuai standard, Tidak terdapat manajemen yang jelas dalam proses pembelajaran.           

            3. Pendidikan Non Formal

            Pendidikan Non Formal adalah pendidikan yang bisa didapati melalui aktivitas kehidupan sehari-hari yang tidak terikat oleh lembaga bentukan pemerintahan ataupun swasta, misalnya belajar sendiri melalui buku bacaan atau belajar melalui pengalaman diri sendiri dan orang lain.

            Pendidikan dalam lingkungan keluarga memiliki peranan penting terhadap perkembangan anak. Orang tua bertanggung jawab terhadap semua peningkatan dan kemajuan pendidikan anak-anaknya. Begitu juga dengan lingkungan sekolah, disana para guru bertanggung jawab terhadap kemajuan prestasi anak didiknya. Selain lingkungan keluarga dan sekolah, lingkungan masyarakat juga sangat berperan penting dalam peningkatan prestasi anak didik yaitu dengan peran sertanya dalam pendidikan luar sekolah.

            Beberapa pendapat dan pandangan berkenaan dengan makna pendidikan:

            Menurut UU No. 2 tahun 1989

            Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan pelatihan bagi peranannya di masa yang akan datang.

            UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003

            Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi yang ada didalam dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian yang baik, pengendalian diri, berakhlak mulia, kecerdasan,dan keterampilan yang diperlukan oleh dirinya dan masyarakat.

            Menurut GBHN

            Menurut G.B.H.N. Ketetapan RI tahun 1993 menyebutkan bahwa tujuan Pendidikan Nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, teguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, professional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan manusia juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap jasa para pahlawan, serta berorientasi pada masa depan.

            Menurut UNESCO

            “Education is now engaged is preparinment for a tife Society which does not yet exist”             Pendidikan itu sekarang adalah untuk mempersiapkan manusia bagi suatu tipe masyarakat yang masih belum ada. Konsep sistem pendidikan mungkin saja berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat dan pengalihan nilai-nilai kebudayaan (transfer of culture value). Konsep pendidikan saat ini tidak dapat dilepaskan dari pendidikan yang harus sesuai dengan tuntutan kebutuhan pendidikan masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang.

            Martinus J Marimba,

            Pendidikan sebagai sarana membantu atau menolong setiap orang agar dapat melaksanakan hidupnya dengan baik, menentukan tujuan hidup sesuai yang dibutuhkan dan menjadi pribadi yang mandiri untuk mambantu meningkatkan taraf berpikir menuju kedewasaan. 

            John Dewey,

            Pendidikan adalah sebuah proses pengalaman, di mana kehidupan adalah pertumbuhan yang berarti pendidikan membantu untuk pertumbuhan manusia tanpa adanya batasan usia. Menurutnya yaitu suatu proses yang membersamai pengembangan, peningkatan serta pertumbuhan yang terus menerus. Proses pertumbuhan merupakan proses penyesuaian setiap fase kehidupan dan menambah kemampuan seseorang melalui pendidikan. 

            Howard Horne,

            Pendidikan adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada Tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.

            Lawrence Cremin,

            Pendidikan adalah usaha yang sadar, sistematis, dan berkesinambungan untuk mewariskan, membangkitkan atau memperoleh baik pengetahuan, sikap-sikap, nilai-nilai, keterampilan-keterampilan, atau kepekaan-kepekaan,  maupun hasil apa pun dari usaha tersebut.

A. N. Whitehead,

Defenisi pendidikan adalah sebagai bimbingan kepada individu menuju pemahaman dari seni kehidupan. Menurutnya, seni kehidupan diartikan sebagai pencapaian yang paling lengkap dari berbagai aktivitas yang menyatakan potensi-potensi dari mahluk hidup berhadapan dengan lingkungan yang aktual.       

Dalam istilah lain, kata “Pendidikan” dari bahasa Yunani yaitu “Paedagogis”. Paedagogis beasal dari kata “Pais” artinya anak, dan “Again” artinya membimbing. Paedagogis artinya bimbingan yang diberikan kepada anak. Sudirman berpendapat: pendidikan  suatu usaha yang dijalankan oleh orang tua atau kelompok orang untuk mempengaruhi orang atau kelompok orang lain  agar menjadi lebih dewasa untuk mencapai tingkat hidup yang lebih tinggi dalam arti mental.[6]  Terjadinya sebuah pendidikan tentu membutuhkan proses yang dapat terjadi bisa lama maupun sebentar. Namun demikian tentunya sebuah kualitas hasil dari sebuah pendidikan tidaklah instant semata.

Dalam bahasa Inggris, kata pendidikan berasal dari kata “Education” yang artinya to give intellectual and moral training”. Pengertian tersebut berarti bahwa pendidikan itu bertanggungjawab terhadap pemberian pengetahuan dan pembinaan moral, meningkatkan kecerdasan juga kualitas budi pekerti. Istilah lainnya  adalah  Teaching” yaitu  mengajar,  suatu  proses  belajar  mengajar agar anak memperoleh pengetahuan dan ketrampilan.

Singgih D. Gunarsa menulis: “Setiap usaha yang dilakukan untuk mengubah tingkah laku sedemikian rupa sehingga menjadi tingkah laku yang diinginkan. Setiap anak harus mengalami dan menjalani proses perubahan yang cukup lama sebelum anak dapat hidup sendiri dengan tata cara hidup umum”.[7]          Elizabeth B. Hurlock berpendapat: “Perubahan anak di masa pubertas sangat berpengaruh terhadap sikap, perilaku dan emosinya”.[8] Oleh sebab itu dimasa tersebut hendaknya remaja mendapat asupan dan pengajaran dari Firman yang hidup yang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, dan  memperbaiki  kelakuan  seperti  dituliskan  di dalam 2 Timotius 3:16,17  yang berbunyi:

(16) Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

(17) Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

 

Pendidikan Agama Kristen (PAK) adalah mesin waktu yang membawa insani kepada pengenalan akan Kristus untuk mengalami perubahan perspektif yang diperbaharui sesuai Injil yang murni sehingga membawanya kepada perubahan paradigma dan menanggalkan manusia lama serta dikembalikan untuk mengenakan kepada divine nature (kodrat ilahi). Pendidikan Agama Kristen dimaksudkan untuk meningkatkan potensi spiritual dan membentuk remaja agar menjadi manusia yang beriman dan taat kepada Tuhan dan berahklak mulia, mencakup etika, budi pekerti dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama Kristen.[9]

            Hakikat PAK adalah usaha yang dilakukan secara kontinue dalam rangka mengembangkan kemampuan pada siswa agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati kasih Allah di dalam Yesus Kristus yang dinyatakannya dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungan hidupnya. Seperti yang sudah kita ketahui, kehidupan umat dalam Perjanjian Lama terkenal dengan budayanya yang disebut Patriakal. Budaya ini berkembang dalam kehidupan masyarakat pada saat itu yang dikenal dengan orang-orang Yahudi. Jadi secara tidak langsung pendidikan agama Kristen dalam Perjanjian Lama pun mengarah pada pendidikan agama umat Yahudi pada saat itu.[10]

            Proses ini tidaklah mudah, tenaga pengajar atau guru PAK, baik di institusi akademik maupun di lembaga-lembaga bahkan gerejawi, pelayan dan hamba Kristus harus memiliki hati yang sabar, tekun dan ulet membawa nara didik (peserta didik), warga gereja (jemaat), untuk terus berkesinambungan dibimbing dan diarahkan. Proses ini akan lebih muktahir bila guru PAK dapat menjadi role model yang dipandang layak untuk diteladani. Guru PAK merupakan panggilan yang dipercayakan Tuhan dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan karunia yang telah diberikan kepadanya. “Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial dalam bidang pembangunan”.[11]

            B.S. Sidjabat (Mengajar Secara Profesional; 2010), menegaskan dalam tulisannya perihal pernanan, tugas dan tanggung jawab seorang guru:

            Guru sebagai pendidik; harus memiliki standar kualitas pribadi yang mencakup       tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin. Guru sebagai pendidik bertugas   memperlengkapi nara didik  dengan berbagai kebutuhan agar bertumbuh di dalam    Yesus Kristus.

            Guru sebagai pembimbing, adalah berdasarkan kompetensinya dalam pengetahuan dan             pengalamannya, guru mampu membimbing dan bertanggung jawab atas perjalanan dan             perkembangan nara didiknya.

            Guru sebagai pengajar, adalah guru mengelola kegiatan agar peserta didiknya belajar. Guru tidak hanya mampu menyampaikan bahan yang dikomukasikan, namun juga mampu membantu peserta didiknya memahami faedah atau kegunaan dari proses belajar yang tengah berlangsung.” Guru PAK perlu mempelajari pengetahuan lain, terasuk pengetahuan sosial, pengetahuan alam, dan pengetahuan teknologi selain ilmu teologia dan Alkitab.

            Guru sebagai pelatih, adalah mampu menjadi pelatih sebab pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan dan keterampilan baik intelektual maupun motorik.

            Guru sebagai sahabat, adalah guru harus mampu menjadi teman dan sahabat bagi nara didiknya sebagai orang tua yang mereka segani dan guru harus mampu berkomunikasi dengan memiliki komunikasi yang baik dengan nara didik.

            Guru sebagai fasilitator; guru harus mampu berusaha memahami kebutuhan atau keperluan nara didik dalam proses belajar melalui fasilitator pendidik.

            Guru sebagai pemberita Injil; guru adalah misionaris bagi nara didiknya. Hal ini menjelaskan bahwa betapa pentingnya pemberitaan Injil yang dapat menyelamatkan manusia dari dosa kepada kebenaran, termasuk nara didik.

            Guru sebagai imam dan nabi; Guru PAK di sekolah berperan sebagai imam. Seperti yang diungkapkan oleh Rick Yount (1998) mengemukakan bahwa guru Kristen memiliki peran sebagai pelayan yang dibagi dalam tiga dimensi yakni sebagai imam (priest), nabi (prophet), dan sebagai raja (as king or leader)”.[12]

            “Guru PAK adalah rohaniawan dan pendetanya anak-anak, dalam membimbing dan membawa anak-anak kepada Tuhan. Guru PAK harus melebihi hanya sekedar memenuhi keperluan kurikulum dalam mendidik anak-anak”.

             Guru PAK mutlak mendengarkan Roh Kudus selagi Dia berbicara melalui batin kita, agar kita dapat mengetahui jalan mana yang harus kita tempuh. Oleh karena itu marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk membimbing kita dan memberdayakan kita untuk merangkul sepenuhnya kehendak Allah. Cepat atau lambat jika kita ber-prilaku mengenakan kodrat ilahi, niscaya orang disekitar akan mencium aroma yang berbeda (bnd. 2 Kor.2:15), dan lambat laun akan menulari (influence). Keadaan dunia semakin jahat dan tidak semakin membaik, tetapi bagi mereka yang melakukan kehendak Bapa pasti akan masuk dalam kekekalan. Apalagi teknologi sekarang lebih dominan memikat hati para remaja daripada membaca Alkitab.

            Keteladan adalah bahagian tercepat untuk ditiru karena pada prinsipnya semua insani memiliki sifat dasar mengamati, meniru, dan mengaplikasikannya dalam peragaan hidup secara nyata dalam keseharian. Sebagai contoh seorang anak akan lebih mudah mencontoh/meniru prilaku orang dewasa disekitarnya. Seorang remaja senantiasa mencari figur untuk ditiru karena pada masa usia seperti ini mereka sedang mencari identitas diri. Keadaan situasi dan kondisi seperti ini akan rentan dan sangat dapat membentuk keadaan pribadi seseorang dengan keadaan disekitarnya.

PERAN PAK DI ERA REVOLUSI 4.0

            Kemajuan teknologi di era disrupsi ini, maka guru PAK harus cakap dan piawai dalam menggunakan teknologi yang tersedia. Kompetensi guru PAK di era revolusi industri 4.0 bukanlah suatu keharusan melainkan kebutuhan yang memang harus dipenuhi dan dijalankan dalam rangka menyukseskan pembelajaran secara tepat guna dan tepat sasaran kepada nara didik. Remaja pada masa sekarang ini, di abad ke 21 ini merupakan remaja yang masuk dalam kategori generasi milenial.

            Dilangsir termasuk generasi milenial adalah yang kira-kira lahir pada tahun 1980 - 2000. Pada era ini, komputer baru mulai booming, seiring dengan naik daunnya video games, gadget, smartphones,  dan  internet.  Namun  seiring  perkembangannya,  milenial  atau  juga dikenal sebagai  generasi Y, Gen Y  atau  generasi langgas (KBBI: tidak terikat kepada sesuatu atau kepada seseorang; bebas) adalah kelompok demografi setelah generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk  awal  dan akhir  dari  kelompok ini.  Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Istilah milenial sendiri menjadi trend sejak awal 1987.   Generasi yang sekarang ini kita kenal adalah generasi Alpha, yakni di atas 2010 sebagai kelanjutan generasi Z (2001 - 2010) adalah sebuah generasi yang terbuka karena orang tua pada waktu tersebut dilengkapi dengan latar belakang dari generasi yang juga terlahir pada masa-masa awal perkembangan teknologi. Pola pikir mereka terbuka, transpormatif, dan inovatif akan memberi dampak perkembangan anak-anak yang hidup di generasi Alpha. Kebutuhan jaman akan membentuk generasi dengan segala perilaku/perangainya. Perilaku tersebut akan terbentuk oleh paradigm atau cara pandang yang akan bertumbuh bisa melalui kepribadian, keluarga dan lingkungan sekitar. Lingkungan, yaitu tempat di mana manusia hidup, berinteraksi, menyesuaikan dirinya dan mengembangkan dirinya. Individu menerima pengaruh dari lingkungan, mencontoh dan belajar berbagai hal dari lingkungan.

            Melalui teknologi dalam kemasan IPTEK, semua orang dapat menjelajah hampir kesemua belahan bumi tanpa batas, tanpa harus berkunjung dan berpergian. Mencari data, berita dan informasi dengan hitingan detik dan menit tanpa harus menunggu lama. Pertemuan masa sekarang ini tidak harus bertatap muka langsung tapi dapat dengan google meet, zoom, video call, dan sebagainya. Kondisi dan situasi real time dapat dirasakan setiap waktu tanpa jeda. Kendala nya ialah bagi remaja yang harus diperhatikan oleh guru PAK, gereja dan keluarga adalah bahaya yang tidak terfilter masuknya informasi yang di dapat, diterima dan di back up oleh remaja. Guru PAK  dan semua komponen harus benar-benar bersinergi dalam merangkul dan mengayomi remaja supaya mereka jangan terpengaruh kejahatan cyber yang sengaja diupload oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab hanya demi mencari keuntungan pribadi tapi merugikan generasi muda. Filter itu bukan hanya pengarahan kepada remaja, tetapi juga melalui pembinaan iman agar supaya perspektif remaja tersusun dalam membangun komitmen dan konsisten  untuk hidup dalam kesucian. Tahu memilah mana yang berkenan dan yang tidak. 

            Era milenial ini, remaja sudah piawai di atas rata-rata dalam menggunakan gawai dan teknologi yang tersedia. Hampir di semua tenant, counter dan market place, telah menggunakan teknologi sebagai pendukung penyedia layanan kepada masyarakat sehngga menambah daya tarik minat konsumen. Pasar online, serba cepat menyediakan kebutuhan pangsa pasar, terutama kebutuhan dan keperluan yang menjadi trend dan fashion bagi remaja pada masa kini. Gaming mobile online, video call, zoom, google meet, skype dan fasilitas lainnya yang membutuhkan provider penyedia layanan streaming dan online sedang digandrungi oleh kalangan remaja. Terutama di tengah masa pandemi covid-19, sejak memasuki awal bulan di tahun 2020, kondisi ini membuat hampir semua kalangan menggunakan teknologi sebagai penyambung komunikasi dan silaturahmi. Work from home dijadikan sebagai solusi yang tepat untuk menghambat penyebaran virus tersebut, sementara belajar juga dari rumah bagi para pelajar remaja dalam hal ini menggunakan fasiliotas teknologi sebagai pelengkap pembelajaran. Tentunya bukan hanya dikarenakan kasus wabah ini saja, bahkan sejak tahun 1999, perkembangan teknologi yang didukung revolusi industri 4.0, telah memicu perkembangan grafik meningkat penggunaan teknologi di kalangan remaja pada umumnya. Hal ini bisa berdampak positif dalam bidang pendidikan karena pembelajaran semakin dapat mudah tercapai oleh para pelajar, namun di sisi lainnya ada dampak negatif yang seringkali tidak mendapat filter secara pribadi oleh kalangan remaja dalam mengakses data secara fulgar di internet.

            Di sinilah peran dan tugas serta tanggung jawab baik kedua orang tua, sekolah, gereja dan Guru PAK sangat turut andil dan ambil bagian dalam menyelamatkan kalangan remaja dari bahaya pengaruh teknologi. Teknologi menjadi kebutuhan namun bimbingan iman dan tidak serta merta menyingkirkan teknologi sebagai kebutuhan mendasar pada masa kini. Gereja juga harus melek mata lebar-lebar, kotbah tidak lagi harus monoton terhadap remaja. Streaming pada masa sekarang ini menjadi suatu keharusan untuk menjangkau jiwa-jiwa sampai dibelahan bumi yang paling ujung sekalipun. Dampak streamingpun dirasakan bahwa jemaat atau warga gereja seakan tidak merasakan lagi ibadah secara nyata. Namun itulah kenyataan harus kita hadapi bersama. Khususnya bagi kalangan remaja harsu benar-benar diarahkan apakah mereka lebih mendahulukan kesenangan bermain games atau daripada membaca Alkitab, bersaat teduh, berdoa, beribadah di gereja, membaca buku pelajaran atau lebih banyak menggunakan gawainya.

PAK remaja adalah Pendidikan Agama Kristen yang juga dapat diartikan sebagai suatu usaha membawa para remaja dalam rana berpikir, kerohanian dan bersosialisasi dengan melalui firman Allah dibawah bimbingan Roh Kudus dengan sejumlah pengalaman belajar yang dilaksanakan gereja sehingga menghasilkan pertumbuhan rohani yang berkesinambungan berupa tindakan kasih terhadap sesamanya. Pendidikan Agama Kristen adalah suatu usaha untuk mempersiapkan para remaja untuk memahami, mengamalkan dan meng-ejawantahkan Kasih Kristus melalui kebenaran firman-Nya. Pendidikan Agama Kristen berfungsi untuk menumbuhkan sikap dan perilaku remaja berdasarkan iman Kristen dalam kehidupan sehari-hari yang dikondisikan usia dan dunia yang mereka sedang alami. PAK bukan hanya menyampaikan pengetahuan tentang agama Kristen semata dengan tujuan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan agar manusia dapat mengetahui apa yang baik dan yang buruk serta secara moral baik, namun bagaiman melalui PAK, anak remaja dapat mengenal jati dirinya sebagai ciptaan yang mulia dan agung dari sang pencipta, untuk apa ia hadir di dunia dan berkarya bagi kemuliaan-Nya.        

            Pendidikan Agama Kristen sebagai usaha sengaja dan sistematis, ditopang oleh upaya rohani dan manusiawi untuk mentransmisikan pengetahuan, nilai, sikap, keterampilan, dan reformasi pribadi-pribadi, kelompok, bahan struktur oleh kuasa Roh Kudus sehingga peserta didik hidup sesuai kehendak Allah sebagaimana dinyatakan Alkitab, terutama dalam Yesus Kristus.[13]  PAK remaja harus didelegasikan kepada guru PAK, para pelayan Tuhan yang memiliki hati Bapa, hati yang mengasihi jiwa-jiwa. Rela memberikan hidupnya bagi domba-domba-Nya hingga domba-domba-Nya mengalami kehadiran dan pribadi-Nya.  Sehingga pada masa remaja mereka dapat menemukan siapa pencipta Agung dan Mulia itu, didalam Tuhan Yesus Kristus. Menemukan jalan kebenaran itu memang tidak semudah membalikan telapak tangan, membutuhkan ekstra kerja keras dan tekun dalam membimbing dan mengayomi para anak remaja pada masanya karena di masa ini mereka sedang dalam masa transisi dan sedang menghadapi serba kebingungan mencari identitas.

            PAK remaja harus dapat menyederhanakan titah Tuhan dan ajaran-Nya melalui scope yang lebih luas dengan model dan gaya bahasa yang diperuntukkan anak remaja sehingga mereka dapat memahami dan mengerti maksud dan tujuan Injil untuk diterapkan dalam kehidupan keseharian mereka. PAK bagi anak remaja tentu beda dengan penyuguhan PAK bagi orang dewasa. Ada beberapa hal pola dan metode yang diterapkan bagi mereka sehingga daya tarik baik untuk menerima pengajaran yang hendak disampaikan maupun feedback yang diberikan juga selaras dengan usia dan kebutuhan secara psikologis mereka. Muatan Injil yang murni diberikan kepada para anak remaja harus bermuatan model dan gaya dikondisikan sesuai usia dan kekinian anak remaja pada masanya. Anak remaja di tahun 1980 tentu berbeda dengan kondisi yang dialami anak remaja pada tahun 2020 ini. Tentunya ada beberapa aspek penting yang mempengaruhi pertumbuhan jiwa, psikologis dan hal lainnya yang dapat membuka cakrawala dan paradigma anak remaja dalam merespon kebenaran firman Tuhan melalui media PAK bagi remaja. Media yang tersedia saat ini sudah barang tentu sangat dipengaruhi dan terikat dengan yang namanya IPTEK. Sebagai tenaga pendidik, PAK kepada anak remaja dapat terlaksana dengan baik dan mulus bisa dibantu melalui teknologi yang tersedia dan mumpuni. Dampak teknologi ini sangat deras dirasakan disetiap kalangan, karena manusia pada prinsipnya tidak bisa terlepas dengan pengaruh teknologi.

            PAK remaja dikondisikan usia dan sisi psikologis, muatan firman dan kebenaran yang disampaikan harus dikemas dalam bingkai jiwa remaja disertai pola pikir dan pada masa serta kondisi yang ada pada saat itu. Bila pada masa saat itu sedang trend atau lagi in dalam kegandrungan gadged, maka kebenaran firman yang dituangkan melalui teknologi sedapatnya bisa diraih oleh para anak remaja sebagai trendy kekinian mereka. Sebagai contoh, misalnya sekarang ini para anak remaja lebih banyak menggenggam gadged daripada memegang buku pelajaran, maka melalui kebenaran firman yang hidup sedapatnya disampaikan bahwa belajar adalah ibadah. Gadged bukanlah musuh di mana teknologi sebagai alat untuk mempermudah pekerjaan manusia, kita dapat memanfaatkan media dan sarana melalui teknologi untuk dapat mengembangkan pengetahuan dan belajar lebih dalam melalui sarana tersebut. Anak remaja akan dapat mudah memahami bila disampaikan dengan bahasa yang sederhana disesuaikan dengan bahasa mereka (anak gaul). Karena itu PAK bagi anak remaja jangan menggunakan bahasa baku atau formil, namun juga sopan dan tertata dengan benar sesuai bahasa akademisi PAK di mana inti dasar kebenaran Firman Tuhan tetap tercapai disampaikan.

            PAK remaja melalui gereja, guru PAK, dan pelayan Tuhan, mereka dapat mendengar Injil, mengalami maknanya, menyadari kasih Allah atas hidup mereka, dan meresponsnya dalam iman dan kasih. PAK remaja berupaya untuk menolong para remaja untuk hidup dalam terang Injil, dapat menemukan kepribadian yang tepat, dapat menerima tanggung jawab bagi makna dan nilai yang menjadi jelas bagi mereka ketika mereka dapat mengidentifikasikan diri mereka sendiri dengan tujuan dan misi gereja dalam dunia. PAK remaja merupakan pendidikan yang menyadarkan setiap remaja akan Allah dan kasih-Nya dalam Yesus Kristus, agar mereka mengetahui siapa diri mereka yang sebenarnya. Untuk apa mereka dilahirkan dan berada di dunia ini.sehingga merekamemiliki arti hidup di dalam Kristus dan berkarya bagi kemuliaan-Nya.

            PAK bagi remaja ini bertujuan untuk menjadikan remaja bertumbuh sebagai anak Allah dalam persekutuan Kristen, memenuhi panggilan bersama sebagai murid Yesus di dunia sampai di langit yang baru dan bumi yang baru. Kaum remaja harus mengenal Yesus Kristus dan jika sudah mengenal Dia, harus rela memutuskan segala ikatan lain untuk mengikut dan melayani Dia. Jika remaja mau dipakai Tuhan bagi pekerjaan-Nya, justru diusia merekalah yang dapat menjadi alat yang sangat efektif dan berguna untuk membangun kerajaan-Nya di antara umat manusia. Gairah remaja senantiasa berbunga-bunga dalam keseharian, penuh semangat jiwa muda, bergairah dalam melakukan segala sesuatu untuk dikerjakan. Hanya saja anak remaja masih sangat perlu bimbingan dan pendampingan orang yang dewasa untuk mengarahkan dan menuntun mereka agar tidak sembrono, salah arah saja. Dalam hal ini, guru PAK sangat berperan efektif dan bertanggung jawab sebagai tutor dan juga mentor yang handal dalam membimbing mereka, sebagai seorang sahabat yang setia. Di samping fungsi dan peranan guru PAK, ada juga yang berperan penting, yakni keluarga, gereja dan para pelayan Tuhan yang mencintai pelayanan kepada anak-anak remaja.

Pendidikn Kristen Dalam Keluarga

Keluarga memiliki andil yang besar terhadap setiap anggota keluarganya, tiap anggota memiliki peranannya masing-masing. Dalam berkeluarga akan saling menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang antar sesama. Bagi anak keluarga sangatlah penting. Keluarga sebagai tempat untuk berlindung, memperoleh kasih sayang. Peran keluarga sangatlah penting untuk perkembangan anak pada masa-masa yang mendatang, baik secara psikologi maupun secara fisik.[14] Tanpa keluarga anak akan merasa sendiri, tidak ada tempat untuk berlindung. Cinta, siapa yang tidak kenal cinta. Cinta dapat merubah kehidupan menjadi lebih baik, hidup yang damai dan tentram. Cinta datang dari perasaan dari hati kita untuk melindungi serta memahami orang lain. Keluargalah yang memegang peranan penting tentang cinta ini. Kasih sayang keluargalah yang mengajarkan cinta pertama kali kepada anak semenjak mereka terlahir dan melihat dunia ini. Keluarga berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak baik dari jasmani maupun rohani atau mental. Keluarga yang baik akan memberikan pengaruh yang baik pada mental dan perilaku anak, keluarga berperan mengawasi, membimbing, dan memberikan semangat/motivasi agar anak tumbuh menjadi pribadi yang baik di masa depan nanti.

Orangtua dipanggil ALLAH untuk membina anak-anak mereka baik dalam aspek spiritual maupun jasmaniah. Indah sekali bahwa TUHAN melimpahkan hak istimewa kepada orangtua sebagai peletak dasar nilai-nilai keutamaan yang cukup kuat dalam menopang kehidupan sebuah bangsa yang dimulai dari keluarga.[15]

Yulia Singgih menyebutkan peran orangtua dalam perkembangan anak yaitu: Pertama sebagai orangtua mereka membesarkan, merawat, memelihara, dan memberikan anak kesempatan berkembang. Kedua, Sebagai guru, mengajarkan ketangkasan motorik, keterampilan melalui latihan-latihan, mengajarkan peraturan-peraturan, tata cara keluarga, tatanan lingkungan masyarakat, menanamkan pedoman hidup bermasyarakat. Ketiga, sebagai tokoh teladan, orangtua menjadi tokoh yang ditiru pola tingkahlakunya, cara berekspresi, cara berbicara. Keempat, sebagai pengawas, orangtua memperhatikan, mengamati kelakuan, tingkah laku anak. Mereka mengawasi anak agar tidak melanggar peraturan di rumah maupun di luar lingkungan keluarga.[16]

 

Kesimpulan

            Peranan keluarga sangat besar dalam menyampaikan suara kebenaran secara konkrit. Keluarga adalah lembaga masyarakat yang terkecil, namun demikian hal terpenting karena di  dalamnya terdapat anak-anak yang dipersiapkan untuk bertumbuh sebagai pewaris kerajaan Allah kelak. Perlu kita perhatikan bahwa keluarga pertama yang diciptakan Allah adalah keluarga Adam dan Hawa (Kejadian 1:27-28), di mana Allah menghendaki PAK dalam keluarga (Ulangan 6:4-9). Mengapa demikian? Karena keluarga merupakan tempat untuk bertumbuh yang meliputi tubuh, akal budi, hubungan sosial, kasih, dan rohani terjadi. Selain itu, keluarga juga merupakan pusat pengembangan semua aktivitas, yakni sebagai tempat untuk mentransfer nilai-nilai, norma-norma dan kaidah kehidupan. Di samping itu, keluarga juga bisa sebagai laboratorium hidup bagi setiap anggota keluarga, dan saling belajar hal baik, saling menerima, saling melengkapi karena ada unsur kekeluargaan seikat dalam nafas jiwa mereka.

            Keluarga adalah pusat pendidikan yang pertama dan utama, dengan orang tua sebagai pendidik. Jauh sebelum ada pendidikan formal sekolah, keluarga sudah ada, bahkan sejak jaman purba, hanya saja PAK lahir ketika kekristenan mulai tumbuh dan berkembang. Tanggung jawab orang tua sebagai pendidik, khususnya dalam hal iman atau agama tercatat dalam Perjanjian Lama (Ulangan 6), namun tanggung jawab ini umumnya diserahkan sepenuhnya kepada guru agama di sekolah maupun jemaat, hal ini disebabkan oleh karena kebanyakan orang berpikir bahwa pendidikan adalah yang dilaksanakan secara formal saja dan dikerjakan hanya oleh guru dibidangnya, yakni yang dilakukan menggunakan bentuk skolastik, dengan kurikulum dan guru yang khusus. Hanya segelintir sekali bahkan sedikit yang berpikir bahwa pendidikan dapat dilaksanakan tanpa kelas maupun kurikulum.

            Peran serta kedua orang tua, ayah dan ibu, sangat dominan dalam membentengi putra putrinya dari pengaruh luar. Memberi asupan nutrisi yang sehat dan cukup dalam hal lahiriah merupakan kebutuhan vital bagi pertumbuhan fisik anak-anaknya, namun asupan batiniah dan kerohanian mereka juga harus dipenuhi. Pertama-tama melalui sikap dan perbuatan kedua orang tuanya. Mereka melihat dan merekam apa yang dilakukan dan dikerjakan oleh kedua orang tuanya. Mereka akan meniru dan terekam di otak bawah sadar mereka baik apa yang mereka lihat terlebih secara genetika yang diturunkan oleh kedua orang tuanya. Oleh karena itu warisan yang ideal sbenarnya bukanlah warisan harta benda. Anak-anak memiliki rejeki dan berkatnya secara khusus dari Allah melalui tanggung jawab yang mereka kerjakan. Warisan ideal itu adalah kebenaran firman yang diejawantahkan dari kedua orang tuanya. Ada baiknya gereja memberikan katekisasi bagi kedua pasangan yang sebelum masuk ke jenjang pernikahan kudus untuk memahami pentingnya warisan terpenting yang akan kedua belah pihak berikan kepada anak-anak mereka. Bukan warisan harta benda, melainkan warisan kebenaran yang telah mereka berdua jalanidan hidupkan dalam kehidupan mereka hingga ketika kedua pasangan ini masuk ke dalam mahligai pernikahan, keduanya menemukan kebenaran sejati dan bersama-sama menghidupkannya dalam segala aspek kehidupan dan rumah tangga mereka yang nantikan akan diturunkan kepada anak-anak mereka, dalam hal ini anak remaja mereka. Anak remaja senantiasa mudah mengamati, merekam dan meniru dari apa yang ada disekitarnya, bahkan mereka selalu melihat sosok figur yang dapat diandalkan.

            Faktor inilah yang seharusnya menjadi pemikiran kita bersama bahwa PAK di dalam keluarga juga harus diterapkan dan dihidupkan. Dihidupkan melalui mezbah doa keluarga disertai ibadah kecil, mezbah doa pribadi, rutinitas kebiasaan membaca Alkita setiap hari, saat teduh, beribadah bersama, sharing keluarga bisa melalui tamasya, makan bersama, nobar (nonton bareng) di bioskop, dirumah, dan sebagainya. Rutinitas ini akan membentuk kebiasaan yang positif untuk semua anggota keluarga, khususnya anak remaja. Mereka akan terbiasa dengan kumpul bersama keluarga yang didahului atau sesudahnya dengan makan malam bersama, yang mana nantinya anak remaja terbiasa dan menjadi kebiasaan untuk bercengkerama dengan keluarga sampai mereka membentuk keluarga baru. Mereka dapat mengambil contoh dan meniru kebiasaan yang terbentuk dari keluarga orang tuanya yang harmonis. Kata harmonis mungkin juga tidak se ideal yang dipikirkan dan diperkirakan oleh banyak orang. Bisa saja ada keluarga yang tidak seharominis karena kepapahan masalah ekonomi, namun setidaknya pihak orang tua tetap melestarikan kumpul bersama keluarga seperti pepatah mengatakan “mangan ora mangan sing penting tetap kumpul”. Hal ini juga bisa menjadi suatu hal positif bagi anak remaja bahwa keadaan dalam situasi apapun bahwa keluarga tetap nomor satu yang harus diprioritaskan. Orang tua akan bekerja keras demi menafkahi keluarga dan anak-anak mereka. Menyekolahkan anak-anaknya bahkan hingga kejenjang perguruan tinggi. Ini bisa menjadi teladan positif bagi anak remaja bahwa orang tua bertanggung jawab terhadap anak dan keluarganya. Walau tidak sedikit dan cukup banyak anak remaja yang justru mengabaikan kasih sayang kelurga dan lebih memilih memberontak melawan kedua orang tuanya karena faktor pergaulan dan keinginan bebas, merasaak terkekang oleh perturan kelurga yang justru hal ini membuat kebaikan bagi anak remaja supaya tidak terjerembab oleh pergaulan bebas.

            PAK di tengah keluarga berhasil bukan hanya saja lewat pengajaran formal, melainkan keteladanan orang tua. Keteladanan adalah merupakan pendidikan iman yang paling efektif sepanjang masa. Pengajaran PAK formal di gereja dan di sekolah menjadi gagal karena tidak dilandasi dengan keteladanan. Yesus berhasil dalam pengajarannya karena ia sangat menekankan keteladanan bagi murid-murid-Nya. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Ikutlah teladan-Ku”. PAK dalam keluarga haruslah berbasiskan kepada keteladanan dari orang tua kepada anak-anaknya sehingga keluarga hidup dalam keharmonisan.[17]

            Kegagalan yang terbesar dalam keluarga Kristen adalah  ketika keluarga tidak ada kesatuan hati dalam mendidik anak, yaang kedua ketidaksingkronan antara yang dijarkan dengan yang dilakuakn oleh orang tua dalam hidup sehari-hari. Keluarga Kristen adalah persekutuan hidup antara ayah, ibu, dan anak-anak yang telah percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi serta berusaha untuk meneladai hidup Yesus dengan pengajaran-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Keluraga merupakan tempat tumbuh kembangnya seorang anak baik fisik, sosial maupun imanya.

            Peran ayah dan ibu sangat dominan dalam hal ini, maksudnya dalam memberi bimbingan dan mungkin pada masa anak remaja lebih tidak menyukai nasehat yang berlebihan, tapi setidaknya, contoh teladan dalam perbuatan, sikap, perkataan dan bahasa tubuh lebih dapat menginspiratif jiwa dan pikiran anak remaja. Orang tua yang baik dan bijak tentunya membawa anak-anaknya masuk dalam pembinaan iman keluarga. Sesibuk apapun pekerjaan baik di dalam dan di luar rumah, kedua orang tua wajib memberi pembinaan kerohanian, selain arahan dalam hal norma dan tradisi dalam keluarga. Pembinaan iman dan kerohanian bagi anak remaja harus disertai hati yang sabar dan tekun untuk mengayomi mereka. Anak remaja hendaknya tidak melihat dan melihat kedua orang tua sebagai figur orang tua yang dituakan, tetapi hendaknya kedua orang tua harus menyadari bahwa mereka bisa menjadi teman atau sebagai sahabat sehingga anak remaja dapat lebih terbuka dan mereka. Bimbingan dan pembinaan kerohanian dapat diejawantahkan dalam sikap dan prilaku yang lebih konkrit daripada perkataan. Bahasa tubuh dan contoh perbuatan mungkin sangat dapat diterima oleh anak remaja. Kedua orang tua harus senantiasa meluangkan waktu mereka untuk anak-anak remajanya dan tidak “kepo” tapi lebih kepada kepeduliaan sebagai seorang teman atau sahabat yang menampung curhatan mereka. Khususnya anak gadis remaja, di mana mereka membutuhkan teman dekat yang lebih condong kepada ibunya, bahkan tidak menutup kemungkinan kepada ayahnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Andar Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan, BPK Gunung Mulia, Jakarta:2019

E.G.Homrighausen, Pendidikan Agama Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta: 1985

Franky, Pendidikan Andal Di Era Millenial, Program Pascasarjana Universitas Profesor Doktor             Moestopo (Beragama), Jakarta:2019

Harry A. Hollet & Clarence E. Macartney, The Chosen Twelve Plus One (Dua Belas Murid Tuhan ditambah Paulus), Gandum Mas, Malang:2010

Johanes Kurniawan, Dkk, Formulasi Pendidikan Agama Kristen (Bunga Rampai Kolokium Didaktikum), Ekumene Literature (ELTE), Jakarta:2019

Johanes Kurniawan, PAK Remaja, PT Mitra Cahaya Mas, Jakartra:2021

John Wiley and Sons, Introduction to Qualitative Research Methdos; A Guidebook and Resource (Kanada: New Jersey, 2016). 42

John Stott, Isu-Isu Global Menantang Kepemimpinan Kristen, Yayasan Komunikasi Binakasih/OMF, 2014          

Albi anggito & Johan Setiawan, Metodologi Penelitian Kualitatif (jawa barat: CV Jejak, 2018).

Reni Triposa, Yonatan Alex Arifianto, and Yudi Hendrilia. "Peran Guru PAK sebagai Teladan dalam Meningkatkan Kerohanian dan Karakter Peserta Didik." Jurnal Pendidikan Agama Kristen (JUPAK) 1.2 (2021): 124-143.

Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pemikiran dan Praktek PAK dari Plato sampai Ig. Loyola, BPK Gunung Mulia, Jakarta:1994.

Saiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kepemimpinan, Memberdayakan Guru, Tenaga Kependidikan dan Masyarakat Dalam Managemen Madrasah, Alfabeta, Bandung:2009.

Singgih Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak & Remaja, BPK Gunung Mulia, Jakarta:2018

Singgih D. Gunarsa, Psikologi Praktis: Anak, Remaja dan Keluarga, BPK Gunung Mulia,             Jakarta:1999

Singgih D. Gunarsa, Psikologi Pembimbing, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1995

Soesilowindradini, Psikologi Perkembangan Masa Remaja, Usaha Nasional, Surabaya:2019

Sudirman, Pengertian Pendidikan, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2006

Teressa M. Mc  Devitt, Jeanes Ellis Omrod,  Child Development and Education, Merril Prentice Hall, Colombos Ohio:2002

Thomas H. Groome. Christian Religious Education: Sharing Our Story and Vision. Harper, San Fransisco : 1980.

Thomas Lickona. Pendidikan Karakter. Kreasi Wacana, Bantul: 2012

Susanto, Meneladani Jejak Yesus Sebagai Pemimpin, Yogyakarta: Andi, 2010.

Sen Sendjaya, Ph.D, Jadilah Pemimpin Demi Kristus, Literatur Perkantas, Jakarta:2016

Stephen Tong, Arsitek Jiwa, Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta:1995.

Thomas H. Groome. Christian Religious Education: Sharing Our Story and Vision. Harper, San Fransisco:1980.

Welly Pandensolang, Roh Kudus dan Gereja, Yayasan Agape Jaya Indonesia, Jakarta:2021

Y. Gunawan, Pr., Kepemimpinan Kristen: Melayani Sepenuh Hati, Kanisius, 2014

Y. Bambang Mulyono, Mengatasi kenakalan remaja: dalam perspektif pendekatan - pendekatan sosiologis-psikologis-teologis, Yayasan Andi Offset, Yogyakarta:1993

William J. Paul, The New Education and Religion. Association Press, 1986

https://journal.sttsimpson.ac.id/index.php/EJTI/article/view/125

https://kinaa.iakn-toraja.ac.id/index.php/ojsdatakinaa/article/download/70/35

 



[1] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta: 1994

[2] Andar Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan, BPK Gunung Mulia, Jakarta: 1998

[3] Soesilowindradini, Psikologi Perkembangan Masa Remaja, Usaha Nasional, Surabaya:2019, hlm. 206-212

[4] Iris V. Cully. Dinamika Pendidikan Kristen. BPK Gunung Mulia, Jakarta:2003. Hal.123

[5] Thomas Lickona. Pendidikan Karakter. Kreasi Wacana, Bantul: 2012, Hal. 26.

[6] Sudirman, Pengertian Pendidikan, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2006

[7] Singgih D. Gunarsa, Psikologi Pembimbing, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1995

[8] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, Erlangga, 1990

[9] Johanes Kurniawan, PAK Remaja, STT Ekumene Jakarta, 2021

[10] W.S. Lasor, Pengantar Perjanjian Lama 1, 2., BPK Gunung mulia, Jakarta:2012

[11] Sardiman. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta:2007. Hal. 125

[12] B.S. Sidjabat, Mengajar Secara Profesional, Kalam Hidup, Bandung:2010. Hal. 105,127

[13] Junihot Simanjuntak, Filsafat Pendidikan dan Pendidikan Kristen, ANDI, Yoyakarta: 2013, hal. 68.

[14]  Singgih D. Gunarsa, Psikologi Praktis: Anak, Remaja dan Keluarga , BPK Gunung Mulia,   Jakarta:1999, hal.26

[15]  Sostenis Nggebu, Desain ALLAH bagi Anak dan Remaja, Biji Sesawi Press, Klaten, Jawa Tengah: 2016

[16]  Yulia Singgih, Asas-asas Psikologi Keluarga Idaman, BPK Gunung Mulia, Jakarta: 2002, hal.44-45.

[17] J.M. Nainggolan, Strategi Pendidikan Agama Kristen, Generasi Info Media, Jawa Barat, 2008, hal. 40

ORANG TUA DAN GURU PAK ADALAH PENGAMPU PENDIDIKAN Rumah adalah tempat ternyaman bagi anak-anak, dan seluruh anggota keluarga baik itu suami ...